Yuk, Bersikap Bijak pada Pejuang Kehamilan

“Mas, apakah aku berdosa ketika ada pikiran, untuk menukar rezeki berkah buku dan film dengan rezeki kesuksesan program bayi kita. Andai tak perlu jadi best seller atau box office, cukup Allah mudahkan saja jalan mendapat anak?”

Rentetan kalimat diatas termaktub dalam sebuah buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais. Puteri salah satu petinggi negeri ini, Bapak Amien Rais. Sekilas orang akan memimpikan kehidupan seperti Mbak Hanum. Kaya, cantik, cerdas jadi paket komplit di kehidupan beliau. Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM lalu mengikuti suami di tanah Eropa. Menjadi wartwan dan menulis beberapa buku yang menjadi best seller dan juga telah difilm kan.

Sayangnya, dibalik semua itu Mba Hanum pernah depresi bahkan mencoba untuk bunuh diri. Apa sebabnya? Penantian yang tak kunjung datang. Sebelas tahun penantian bukanlah hal mudah. Bertahun-tahun dihantam kenyataan pahit ketiadaan dua garis merah di alat test pack menjadi tekanan batin tersendiri.

Jika Mba Hanum pada akhirnya diberi keturunan melalui program bayi tabung, masih ada banyak pasangan lain di luar sana yang masih terus merawat mimpi. Ya, kehamilan adalah mimpi bagi banyak pasangan di dunia ini. Namun, tidak semua pasangan begitu mudah mendapatkannya.

Ada sabar yang harus direnda, ada doa yang harus terus dikirimkan untuk menggedor pintu langit. Nahasnya, ditengah penantian tersebut, ada saja komentator tak punya hati yang dengan mudah melontarkan komentar pedas.

“Kok belum hamil, padahal yang sama-sama nikah sudah punya dua anak.”

“Ini pasti kurang ikhtiar ya sampai belum hamil-hamil juga”

“Pasti rumah sunyi banget ya belum ada anak”

Juga sederet komentar lainnya yang begitu mudah dilontarkan tanpa memikirkan bagaimana kata-kata tersebut menghujam dan menggores hati yang dituju. Terutama bagi kaum perempuan yang memang dianugerahi perasaan lebih peka.

Mari Berempati, Hindari Intimidasi dengan Ilmu

Pasangan yang belum diakrunia keturunan dalam jangka waktu lama disebut mandul. Mandul dalam bahasa medis disebut juga infertilitas. Kondisi ini jika tak disikapi dengan ilmu maka akan menimbulkan banyak kesalahpahaman. Nah, sebagai orang berlatar belakang pendidikan kebidanan, dalam artikel ini saya hendak membahas beberapa hal tentang infertilitas. Semoga bisa memberikan pemahaman bagi Sobat Waode.

Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung sampai melahirkan bayi hidup setelah satu tahun melakukan hubungan seksual yang teratur dan tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun atau setelah memutuskan untuk mempunyai anak. Infertilitas secara medis terbagi 2 yaitu infertilitas primer dan sekunder.

Digolongkan sebagai infertilitas primer jika seorang wanita yang telah berkeluarga belum pernah mengalami kehamilan meskipun hubungan seksual dilakukan secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi untuk selang waktu paling kurang 12 bulan. Sedangkan, infertilitas sekunder jika tidak terdapat kehamilan dalam waktu 1 tahun atau lebih pada seorang wanita yang telah berkeluarga dengan berusaha berhubungan seksual secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi, tetapi sebelumnya pernah hamil.

Masyarakat seringkali keliru dalam menanggapi masalah infertilitas sehingga memunculkan berbagai tanggapan psikologis pada pasangan yang menghadapi masalah ketidaksuburan, termasuk rendah diri, marah, sedih, cemburu terhadap pasangan lain yang sudah memiliki anak, kecemasan, dan, akhirnya depresi.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memeriksa gangguan psikologis yang dialami oleh pasangan infertil. Prevalensi depresi pada populasi ini mempengaruhi 34-54% dari istri dan 23-32% dari suami. Tingkat depresi berhubungan dengan tingkat stres yang berbeda di antara wanita dan pria karena berbagai alasan, termasuk yang berikut: usia reproduksi wanita, gagasan bahwa masalah reproduksi adalah tanggung jawab istri, ketidakseimbangan hormon wanita, dan peningkatan jumlah intervensi medis yang harus dihadapi oleh wanita.

Perempuan sebagai pihak yang memiliki fungsi reproduksi hamil dan melahirkan menjadi pihak pertama yang disalahkan dalam masalah ini. Faktanya, kegagalan pasangan suami istri (pasutri) dalam memperoleh keturunan, tidak hanya masalah pada wanita tetapi juga bisa disebabakan oleh masalah pada pria. 40 persen kesulitan mempunyai anak terdapat pada wanita, 40 persen pada pria, dan 30 persen pada keduanya. Anggapan bahwa kaum wanitalah yang lebih bertanggungjawab terhadap kesulitan mendapatkan anak adalah kurang tepat. WHO memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki masalah infertilitas, dan setiap tahun muncul sekitar 2 juta pasangan infertil.

Adanya stigmatisasi pada perempuan sebagai pihak yang bersalah, tentu saja berdampak pada kehidupan psikososial yang mengakibatkan timbulnya kecemasan, stress, maupun depresi. Perempuan infertil digambarkan memiliki pengalaman hidup yang berat dan menjalani krisis kehidupan yang kurang membahagiakan. Harkness (1987) menjelaskan bahwa perempuan yang menghadapi infertility experience akan mengalami emosi-emosi negatif, seperti perasaan bersalah, kecewa, loss of control, dan kekesalan. Life crisis tersebut sangat umum terjadi pada perempuan infertil.

Dukungan moral dan sosialisasi kepada masyarakat hendaknya dilakukan sebab pasutri infertil sudah pasti mengalami kondisi psikologis yang tidak baik. Stress menjadi salah satu factor yang harus dipertimbangkan apabila hendak melakukan pengobatan. Oleh sebab itu diharapkan dukungan masyarakat agar dapat membantu dalam proses pengobatan.

Dengan kemajuan teknologi, pasangan infertile bisa sedikit bernapas lega karena hadirnya metode-metode baru yang ditemukan. Dimulai pada tahun 1958, Robert Geoffrey Edwards yang bekerja sebagai staf ilmuwan National Institute Medical Research di London melakukan riset tentang proses fertilisasi pada manusia. Pada 25 Juli 1978, bayi tabung pertama di dunia, Louise Brown, lahir dari pasangan Edwards dan Lesley Brown. Hal ini terjadi setelah sekitar 100 percobaan Edwards-Steptoe mengalami kegagalan dan hanya menghasilkan kehamilan singkat.

Kemajuan luar biasa di bidang reproduksi menawarkan banyak pilihan bagi pria, wanita, dan pasangan dengan masalah reproduksi. Sekitar 2% konsepsi di Eropa secara medis kebanyakan melalui proses “in vitro” fertilizations (IVF), tetapi hanya 15-20% yang menghasilkan kehamilan pada percobaan pertama. Tingkat keberhasilan IVF yang rendah, membuat “solusi” ini turut menjadi sumber stres akibat proses yang panjang, menyakitkan dan menegangkan, frustrasi karena harapan yang tidak terpenuhi, tekanan sosial, ketidakberdayaan, kekecewaan, putus asa serta biaya yang tinggi.

Belum lama ini, sebuah terobosan besar dalam pengobatan infertilitas diteliti oleh peneliti Australia. Teknik inovatif, yang dikembangkan dari perawatan yang sudah ada yang disebut in-vitro mature (IVM), menggunakan obat hormon yang jauh lebih sedikit daripada IVF. Dengan demikian sangat mengurangi risiko komplikasi medis, terutama bagi wanita dengan sindrom ovarium polikistik. Teknik IVM menggunakan protein khusus yang disebut cumulin, yang dikembangkan di laboratorium untuk meniru protein faktor pertumbuhan telur di ovarium, dikombinasikan dengan molekul pensinyalan yang disebut modulator siklik-AMP (cAMP).

Kita patut berbangga dengan berbagai penemuan yang telah banyak membantu manusia. Namun hingga saat ini teknologi dengan biaya yang masih berkisar 60-80 juta untuk sekali program baru sampai pada tahap sebatas mempertemukan sperma dan ovum. Proses ini memakan waktu lama dan hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Bersebab tingginya kompleksitas mekanisme yang terlibat dalam proses sperma membuahi ovum, kita dapat menyatakan bahwa kehamilan adalah keajaiban alam.

Para ilmuwan tak bisa membantah bahwa proses kehamilan adalah sebuah keajaiban yang diberikan oleh Sang Pencipta. Oleh sebab itu, sebagai orang terpelajar hal yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan dukungan moral pada para pejuang kehamilan terutama wanita. Dan tidak lupa, sebagai insan beragama senantiasa mengingatkan untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa sebagai pemegang hak perogatif menciptakan makhluk hidup. Edukasi pada masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar tak ada lagi stigmatisasi negatif yang dapat berujung pada masalah psikologis.

Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah terus mengupgrade pengetahuan tentang ilmu dan penemuan terkini  untuk membantu para pejuang kehamilan agar mencari alternatif penanggulangan masalah infertilitas.

Ibupedia, Berburu Informasi dari Sumber Terpercaya

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita berada di zaman tsunami informasi. Berbagai informasi datang silih berganti. Salah memilih sumber maka akan berakibat fatal ketika diikuti. Bagi para pejuang kehamilan, ada satu situs yang saya sarankan untuk mencari informasi. Situs tersebut bernama Ibupedia.

Ibupedia hadir atas niat untuk membantu para orang tua terutama kaum ibu  agar bisa menjalani perannya secara bahagia. Hadir sejak 2013, Ibupedia  mengambil peran dalam menyajikan informasi seputar kesehatan anak, bayi, kehamilan, keluarga dan parenting. Ada banyak artikel dan infografis yang bisa diakses secara gratis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *