Tanah Quba dan Kemesraan Seorang Sahabat

Peluh perang Uhud belum juga kering ketika seorang wanita Bani Dhirar  tergopoh mencegat pasukan kaum muslimin dalam perjalanan pulang ke Madinah. Kabar wafatnya Rasulullah telah menghadirkan kegundahan dalam hati mereka yang tak turut ke medan jihad. Tak terkecuali wanita ini.

“Bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

“Suami anda meninggal”, sahut pasukan Uhud.

“Bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” tanya wanita ini lagi

“Ayah anda meninggal”,

“Bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Sang wanita kembali mengulang pertanyaan yang sama

“Saudara anda meninggal”, pasukan Uhud memberitakan.

Alih-alih bersedih, dilontarkannya kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

“Beliau baik-baik saja, wahai Ummu Fulan. Walhamdulillah…, seperti yang anda harapkan”, jawab para pasukan.

Aduhai.…, betapa kuat wanita ini.

Dan kemudian meluncurlah sebuah ikrar cinta nan  dahsyat yang masih bisa kita temui dalam Ar-Rakhiq al-Makhtum, 256

SEMUA MUSIBAH SELAMA ANDA SELAMAT, ITU RINGAN”

Deg… sebesar itukah kecintaan para Sahabat/Sahabiyat pada sang Nabi?

Perjalanan hari ini menjadi satu diantara beribu jawaban lahirnya kecintaan tersebut.

 

Madinah, 20 Juni 2018

“Alhamdulillah, hari ini tepat pada hari Sabtu, Allah izinkan kita untuk melakukan perjalanan  ke Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saat hijrah yaitu  Masjid  Quba”

Ustadz Herfi memberikan pembukaan diawal keberangkatan kami dari hotel menuju Masjid Quba.

Baca Juga Haramain, I am Coming

“Menurut salah satu riwayat, Hari Sabtu adalah hari yang sering  dipilih oleh Rasulullah untuk datang ke Mesjid Quba.  Ada yang tahu mengapa?”

Masjid Quba

Ustadz pembimbing kami itu melemparkan pertanyaan kepada jamaah umroh. Beberapa saat tak ada yang menjawab. Semua sibuk menerka-nerka apa kiranya jawaban pertanyaan tersebut. Atau mungkin tak ada alasan khusus bagi Rasulullah memilih hari Sabtu sebagai hari kunjungan.

Karena tak ada jawaban Ustadz Herfi melanjutkan, “Dahulu para Sahabat yang berada di daerah  ini setiap Jum’at akan pergi ke Madinah untuk menjalankan shalat Jumat berjamaah bersama Rasulullah. Ketika mereka sampai di Madinah, Raslullah mengamati kalau-kalau ada sahabat yang tak hadir di hari itu.

Jika ada, maka usai shalat  beliau akan menanyakan keberadaan si fulan. Maka kunjungan pada hari Sabtu ke mesjid ini menjadi kunjungan balasan akan kedatangan para sahabat di hari Jumat ke Madinah. Pun jika ada yang tidak datang pada hari Jumat misalnya karena sakit, maka Rasulullah menggunakan waktu tersebut untuk mengunjungi mereka”

Serasa ada aliran hangat yang mengaliri hati ini. ‘Ya Rasulullah semesra itu kah engkau pada para sahabatmu?” Tanyaku dalam hati diikuti tetesan air mata.

Entah kenapa setiap sisi hidup Sang Nabi menggoreskan jejak yang manis. Dan aku gampang sekali dibuat meleleh oleh kisah hidupnya terlebih di tempat dimana setiap jengkal tanahnya menyimpan jejak wangi sang Rasul.

Ustdaz pembimbing kami yang merupakan alumni LIPIA masih melanjutkan penejelasan, “Rasulullah datang ke sini terkadang dengan berjalan kaki ataupun mengendarai unta. Kadang bersma para Sahabat yang lain, kadang juga hanya sendiri”

Lagi-lagi aku tertegun. “Jalan Kaki?”

Madinah Al Munawwarah dan Quba berjarak kurang lebih 3 km.  Mungkin untuk jarak di Indonesia hal ini akan dianggap biasa saja dan dengan  mudah dilakukan. Udara yang tak pernah terlalu panas dan banyaknya pohon-pohon di sepanjang perajalanan mampu menjadi tempat  berteduh saat kelelahan.

Baca Juga Keunikan Kota Thaif yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Berkunjung

Namun,  jangan bayangkan itu di tanah suci. Saat kami berada di sana, bertepatan dengan musim panas. Saking tak kuat menahan panas, kami malas untuk sekedar pulang ke hotel yang berjarak hanya beberapa meter saja. Bahkan ketika jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi.

Ya Rasulullah…, masih adakah sahabat yang mesranya sepertimu?

Tanah ini mejadi saksi betapa jauh sebelum orang-orang dengan berbagai kalimat romantisnya mengomentari tentang persahabatan, engkau telah menjadi contoh semesra-mesra sahabat.

Hari ini semua orang terbata mengeja arti persahabatan, sedang akhlak mulia mu bahkan tak pernah habis digoreskan oleh sejarah tentang bagaimana menjadi sebaik-baik sahabat.

 

Artikel ini ditulis juga di Akun Blogspot Waode

 

18 thoughts on “Tanah Quba dan Kemesraan Seorang Sahabat

  • April 21, 2021 at 6:19 am
    Permalink

    Rasulullah adalah orang paling mulia di muka bumi, makanya setiap jejak yang beliau tinggalkan selalu menggoreskan kesan yang manis. Saking cintanya kepada sahabat dan umatnya, Rasulullah rela berjalan kaki sejauh 3KM. Bahkan kondisi saat itu tentu aja beda banget seperti di INdonesia. Terik mataharinya jauh lebih panas ya.

    Makanya tidak heran kalau para sahabat dan umatnya juga sangat mencintai beliau.

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:45 pm
      Permalink

      “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”. Jejak yang harumnya masih bisa tercium hingga kini. Semoga kelak Allah pertemukan kita semua dengan beliau.

      Reply
  • April 21, 2021 at 7:29 am
    Permalink

    suami, ayah, anak mati di medan pertempuran tak dihiraukannya. Hanya berita mengenai Rosulullah yang ingin segera diketahuinya. Sungguh kecintaan wanita tersebut pada Rosululloh sangat besar.

    Terus saya termenung sendiri, bertanya-tanya pada diri sendiri, seberapa besar kecintaan saya pada Rosul?

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:44 pm
      Permalink

      Kisah diatas menjadi cermin bagi kita generasi saat ini yang hanya kadang-kadang mengingat beliau. Astaghfirullahaladzhim.

      Reply
  • April 21, 2021 at 9:26 pm
    Permalink

    Bener nih mbak. Ketika berbicara persahabatan maka teladan utama ya Rasulullah SAW. Karena sebaik baik persahabatan adalah yg didasari karena ALLAH SWT semata

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:43 pm
      Permalink

      Benar banget Mba. “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”

      Reply
  • April 22, 2021 at 2:09 am
    Permalink

    Cinta yang sebenar-benarnya kepada junjungan yang sangat mesra. Kemuliaan akhlak memang patut menjadi teladan untuk semua umat beliau.

    Selalu ada rasa haru membaca sepenggal kisah Rasul. Tak terkecuali kemesraan beliau pada para sahabat.

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:43 pm
      Permalink

      “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”. Semoga Allah perkenankan kita berjumpa beliau di telaga Kautsar. Aamiin yaa rabbal alamin.

      Reply
  • April 22, 2021 at 4:09 am
    Permalink

    Sepanas itu ya, saya tanpa sadar pegang wajah, padahal bukan tipe yang telaten pakai skincare.
    Ummu fulan di atas, cintanya luar biasa. Bolehkah seperti itu?

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:42 pm
      Permalink

      Kalau yang saya pahami boleh Mba. Ini didasarkan pada percakapan antara Umar bin Khaththab dan Rasulullah dimana saat itu sang Sahabt menyatakan bahwa ia mencintai Rasulullah setelah dirinya sendiri. Oleh Rasulullah disuruh untuk mengganti redaksinya jadi cinta pada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan apda diri sendiri.

      Reply
  • April 22, 2021 at 4:36 am
    Permalink

    Perilaku nabi Muhammad selalu bikin saya terharu.
    Setiap mendenga/membaca siroh nabi, selalu ada butiran meleleh yang membuat diri berseru dalam hati “pantaslah Engkau menjadi manusia paling dicintai.. akhlakmu sungguh terpuji”.
    Penuh cinta pada siapapun.

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:40 pm
      Permalink

      “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad” . Kemesraan beliau pada sahabtanya tak lekang oleh zaman. Semoga kelak kita dipersatukan dengan beliau di Surga-Nya.

      Reply
  • April 22, 2021 at 10:21 am
    Permalink

    Rasulullah adlah Suri tauladan ya mbak 😖 sungguh kuat wanita itu ya mbak, bertanya beberapa kali huhuhu aku membaca pertama kali sudah nangis dia masih bertanya beberapa kali

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:38 pm
      Permalink

      “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”. Demikianlah kecintaan para Sahabat/Sahabiyah pada Rasulullah.

      Reply
  • April 24, 2021 at 3:45 pm
    Permalink

    Saya kadang suka mewek kl baca sirah terutama tentang sayangnya Rasulullah SAW pada sahabat2nya, kayak yg Mbak tuliskan di atas, selepas salat Jumat kl sahabat beliau ada yg absen di masjid, beliau akan mengunjungi, sungguh suri tauladan kita ya Mba…

    Reply
    • April 24, 2021 at 11:28 pm
      Permalink

      “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad” . Benar Mba sampai-sampai semua sahabat meraasa sebagai yang paling dicintai oleh Rasul.

      Reply
  • April 26, 2021 at 2:48 am
    Permalink

    Tulisan ini sukses membuat saya terharu. Memang Rasulullah SAW adalah suri tauladan yang keindahan akhlaknya tidak ada duanya. Aih, saya jadi ingat lirik-lirik dalam lagu Raihan “Alangkah Indahnya Hidup Ini”

    Semoga kelak kita menjadi hamba-hamba Allah yang berbaris di belakang Rasulullah SAW untuk satu per satu memasuki jannah

    Reply
  • May 3, 2021 at 10:21 am
    Permalink

    Allahumma shalli ala Muhammad, bahkan Rasulullah kebaikan akhlaknya juga diakui non muslim sekalipun. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat..aamiin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *