STOP! Jangan Ada Remaja Di Rumah Kita

Whaaaattt???  Maksud loe???

Terus, kalau di rumah ada remaja, mau digimanain? Dibuang? Dikasi ke orang?

Ada-ada aja deh….

***

Tenang…tenang… Kita bahas ini dengan otak yang dingin. Ok.

Mumpung sedang dalam bulan Ramadan semoga gak langsung terhasut dan ngamuk-ngamuk ke yang nulis. Peace 🙂

Sebelum menejelaskan panjang lebar, saya mau tanya dulu ke Sobat Waode, pernah dengar tidak kalimat seperti ini?

“Gak apa-apa nakal, namanya juga remaja.”

“Si A mah cuma anak ABG belum tau apa-apa”

 “Biarin aja kalau mau hura-hura. Mumpung masih remaja.

Atau kalimat-kalimat bernada serupa, yang memaklumi kenakalan dan ‘ketidaktahu apa-apaan’ oknum berlabel remaja.

Hmmm… kayaknya sering banget kan? Atau jangan-jangan kita yang jadi subjek atau objeknya?

Pertanyaannya :

  • Kok bisa ya label tersebut dianggap wajar pada si remaja?
  • Apa betul remaja masa untuk nakal?
  • Apa betul remaja itu gak tahu apa-apa?
  • Lalu, benar gak sih kalau masa remaja itu masa hura-hura?

Sebelum jawab itu, kita cek dulu ya siapa aja sih yang disebut remaja?

Hingga kini belum ada defenisi paten tentang remaja. Yang ada hanya rentang usia remaja yang berbeda-beda antara pendapat satu dan lainnya.

WHO menyebut remaja itu manusia berusia 10-20 tahun.

Sedangkan Prof Sarwono, menyebut usia remaja antara 11-24 tahun dan belum menikah.

Lain lagi menurut Hurlock, masa remaja antara 12-21 tahun.

Dari beberapa pendapat di atas, dalam jenjang pendidikan, label remaja disematkan pada mereka yang berada di bangku SMP hingga selesai S1 atau bahkan S2.

Nah, kalau tadi ada pakar yang ngasih makna baik-baik dan kerap dijadikan rujukan karya ilmiah, ada pula sebagian pendapat yang menganggap remaja sebagai makhluk gak jelas dan tidak pernah dikenal pada generasi terdahulu.

Kok dibilang makhluk gak jelas? Kan ada banyak remaja d sekitar kita.

Remaja ini dianggap makhluk gak jelas soalnya mau dibilang anak-anak sudah muncul tanda-tanda kedewasaan pada fisiknya (baligh). Mau dibilang dewasa, pola pikirnya masih anak-anak (belum aqil).

Eh tadi katanya remaja tak pernah dikenal pada generasi terdahulu? Masa sih? Terus sebutan untuk mereka yang berada pada usia tersebut apa dong?

Sebelum bahas soal nama atau julukan di masa lampau pada mereka yang usianya setara remaja sekarang, Lihat dulu deh infiografis di bawah ini.

Data tadi hanyalah secuil dari kiprah para pemuda di zaman dulu. Pada usia yang setara remaja saat ini mereka sudah mampu hadir di pentas sejarah dan berkiprah di tengah masyarakat.

Coba deh kita nengok-nengok sebentar pake kacamata sejarah buat bandingin mereka dengan yang seusianya di zaman now.

Mulai dari zaman Rasulullah, pernah dengar nama Usamah bin Zaid? Usamah bin Zaid adalah sahabat muda. Beliau di usia 15/16 tahun udah dinikahkan oleh Rasulullah.

Eitss… ini bukan nikah karena terpaksa ala zaman now ya. Dinikahin karena emang dinilai udah siap. Buktinya Usamah bin Zaid ditunjuk oleh Rasululah jadi panglima ekspedisi penyebaran Islam ke negara adidaya di masanya (Romawi)  pada usia 17/18 tahun. Padahal waktu itu ada sahabat-sahabat yang kehebatannya tak perlu diragukan lagi.

Kenapa dia yang ditunjuk?

Analisis para ahli ilmu bahwa Rasul ingin menunjukkan pada dunia bahwa seharusnya beginiliah generasi muslim. Ketika baligh mereka juga telah aqil. Siap menanggung beban syariat termasuk jihad.  TODAY boro-boro mimpin pasukan, disiplinin diri buat bangun subuh aja susah.

Lanjut ke masa Imam Syafii, beliau di usia 11 tahun sudah jadi mahasiswa.  18 tahun beliau udah jadi mufti. TODAY umur segitu boro-boro jadi ahli agama mau shalat aja kagak. Alasannya masih muda.

Lanjut lagi pada abad ke 7 muncul seorang pakar matemtika bernama Al Khawarizmi. Beliau umur 10 tahun udah hafidz dan usia 17/18 jadi guru besar matematika. TODAY orang jadi guru besar nunggu umur 50 tahunan.

Al Ghazali menulis pemikiran-pemikirannya pada usia 19 tahun dan masih menjadi rujukan hingga saat ini. TODAY mayoritas karya tulis kita hanya berakhir sebagai pajangan arsip kampus.

Abad 14, Muhammad Al Fatih jadi bukti bisyarah Rasulullah bahwa akan ada sebaik-baik pemimpin yang menaklukkan Konstantinopel. Waktu itu beliau berusia 21 tahun. Itu semua gak ujug-ujug. Beliau udah dilatih jadi pemimpin setara gubernur sejak umur 14 tahun. TODAY anak seusia beliau juga perang tapi di gadget. Ngabisin duit, ngabisin waktu, ngabisin umur.

Itu kan orang-orang negeri jauh. Bedalah dengan kita yang di Indonesia

Eitsss… jangan salah.

  • Muhammad Natsir jadi ketua DPC Jong Islamiteun Bond pada usia 14 tahun. Usia 20 tahun sudah mendirikan sekolah.
  • H Imam Zarkasyi menjadi satu dari tiga pendiri pesantren Gontor pada usia 16 tahun
  • Rahmah El Yunusiyah usia 23 tahun mendirikan Diniyah Putri Padang Panjang. Sekolah wanita pertama yang menginspirasi Al Azhar, Mesir

Dan maaassiiihh banyak lagi. Ini berlanjut sampai generasi abad 20 an.

Untuk membaca kiprah lainnya bisa baca buku-buku karya Mba Marfuah Panji Astuti. Sebelum beli bisa baca reviewnya dulu.

Review #1 “Journey to Aqsa”

Review #2 “Journey to The Greatest Ottoman”

Review #3 Journey to Andalusia

Gak bisa disamain dong. Kan beda zaman

Yupppsss… emang zamannya beda. Zaman kita semuanya jadi lebih mudah sebab dibantu oleh teknologi yang semakin canggih. Fasilitas penunjang juga semakin banyak.

Nah loh, harusnya kualitas kita jauh lebih keren kan dari mereka?

Tapi faktanya kok zaman kita bisa tampilnya lama banget. Usia 50 an baru bisa jadi pemimpin. Syukur-syukur kalau beres, biasanya ‘Habis masa jabatan, Terbitlah surat penahanan’

Back to tokoh-tokoh di atas. Jika kita baca sejarah, adakah yang pernah menemukan nama mereka disandingkan dengan kata remaja?

Saya pribadi tidak pernah.

Bahkan, pada tahun 1928  kita mengingatnya sebagai tahun Sumpah Pemuda. Bukan Sumpah Remaja. Padahal saat itu mayoritas yang hadir adalah mereka yang berusia belasan tahun.

Istilah remaja barulah dikenal bertahun-tahun kemudian saat Barat menjadi trendsetter dalam berbagai bidang kehidupan. Istilah ini muncul dengan efek yang tidak bisa dianggap remeh terutama bagi keluarga muslim. Sebab istilah remaja sanggup memutus rantai kehebatan para pendahulunya dengan generasi muslim hari ini.

AADR –Ada Apa Dengan Remaja?-

Sekali lagi mari kita pake kacamata sejarah untuk melihat kapan sih istilah remaja mulai muncul?

Kata remaja muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20-an. Sebelumnya kata ini tidak dikenal. Contohnya aja beliau-beliau yang namanya disebutkan di atas tidak pernah diberi label sebagai remaja. Mereka disebut sebagai pemuda.

Dalam Islam sendiri ada istilah pra baligh dan baligh. Kalau sudah baligh (sekitar usia 15 tahun) mereka sudah harus berkarya. Paling tidak sudah sadar akan tanggungjawabnya secara syariat yaitu shalat, puasa, zakat, haji, jihad dan juga urusan nafkah. Bukan sekedar TAHU ya tapi PAHAM.

Setelah baligh (organ biologisnya  aktif) ia juga sudah harus matang dalam berpikir (aqil). Laki-laki siap menjadi suami dan perempuan siap menjadi seorang istri.

Usia 15 tahun jadi patokan para ahli ilmu Islam berkaitan dengan aqil baligh. Ini karena Rasulullah baru menerima keinginan  jihad Usamah bin Zaid pada umur segitu.

Itu artinya sejak baligh dia sudah dianggap dewasa.

Jadi klasifikasinya pra dewasa dan dewasa. Baligh dan pra baligh.

Nggak ada tuh namanya masa mencari jati diri, masa transisi, masa galau, masa alay, masa cabe-cabean, terong-terongan. Kalau kata Ustadz Harry Santosa penggagas Fitrah Based Education, istilah-istilah itu jadi racun peradaban.

Trus istilah remaja muncul dari mana?

Istilah remaja muncul setelah masa revolusi industri.

Tau tujuannya? INDUSTRI. KONSUMSI.

Semakin lama masa gak jelas yang disebut remaja maka akan semakin konsumtif karena dia belum dibebani tanggungjawab. Semua masih menjadi tanggungan orang tua.

Sukur kalau konsumtifnya positif misal beli buku atau beli kuota buat nonton yang berfaedah.

Lah, kalau kosumtifnya beli paket terus nonton or nge game sampe pagi. Bangun pagi makan junk food trus lanjut nge game lagi. Hmmm….

Biasanya orang-orang seperti ini juga punya sifat hedon. Liat HP terbaru mau beli. Liat artis pamer barang mahal, mau punya juga sampe nangis-nagis minta beli.

Initnya pola hidup generasi ini super konsumtif.

Padahal, dalam Islam sejak usia 15 tahun orang tua tak lagi wajib untuk menafkahi. Diatas 15 tahun semua yang dibeirkan pada anak disebut sedekah bukan lagi nafkah. Hari ini banyak orang tua dan anak yang tidak menyadari hal tersebut. 

Mengapa terjadi demikian? Sebab kita terjebak dalam dua kesalahan

“SALAH ISTILAH DAN SALAH DIDIK” 

So, sejak sekarang mari belajar agar di keluarga kita anak tumbuh menjadi PEMUDA bukan REMAJA. 

Mau tau caranya? Yuk baca  3 Tahapan Mendidik Anak Agar Menjadi Pemuda Bukan Remaja

***

Tulisan ini disarikan dari materi yang disampaikan oleh Ustadz Harry Santosa, S.Si dalam Kajian Spesial Ramadhan Masjid Al Irsyad Depok dengan tema Antarkan Anakmu Jadi Pemuda Bukan Remaja. 

Sobat Waode setuju gak dengan materi kajian diatas? Ditunggu tanggapannya dikolom komentar. 🙂 

 

 

 

 

18 thoughts on “STOP! Jangan Ada Remaja Di Rumah Kita

  • April 25, 2021 at 1:36 am
    Permalink

    Kajian islami tentang remaja ternyata tidak ada ya istilah itu dan lebih ke istilah pemuda. Aku sih yes kak, karena kesannya lebih energik ya dan ciri kepahlawanan ada pada pemuda. Tafsiran yang berbeda dari pendapat atau teori tentang remaja setiap orang sah sah saja menurutku, karena teori juga boleh gak kita ikuti hahaha….

    Thanks atas argumen kakak di tulisan di atas, nambah referensi bacaan nih, mantapp…

    Reply
  • April 25, 2021 at 3:22 am
    Permalink

    Sebagai orang tua baru, tulisan ini sangat membantu dan informatif. Jdi semakin tau apa yg harus dilakukan pada anak nntinya. Istilah remaja yg identik dengan mencari jati diri, masa transisi dll menjadi hal yg dijadikan sebagai tameng bagi mereka yg tetap ingn hidup ‘santai’ dan tidak produktif. So, usahakan anak kita bukan hanya BALIGH tapi juga AQIL. Matang organ reproduksi matang pula AKAL nya.
    Terimakasih atas tulisannya Kak Waode 🥰

    Reply
  • April 25, 2021 at 1:31 pm
    Permalink

    Saya punya dua pemuda berarti di rumah 12 dan 16 tahun dan itu beneran sebuah tantangan.
    Sebuah ulasan menarik. Terkait pola konsumtif, memang sulit ..tapi tips sederhana kalau saya diantaranya lewat teladan. Seperti baju, enggak harus beli baru, baju kakak yang enggak cukup kasih ke adik, kakak dapat baju lungsuran Bapak…dan barang lain yang layak pakai, nggak harus baru meski kami mampu. Tentang HP juga, contohnya, suami dan saya ganti HP kalau beneran dah uzur…, anak-anak pakai bekas kami atau jikapun harus beli gadget baru yang serinya disesuaikan kebutuhan mereka.

    Reply
  • April 26, 2021 at 12:31 am
    Permalink

    Peran media mungkin ya jadi salah kaprah, seolah remaja itu gudangnya galau dan labil.
    Padahal ya menurutku cuma istilah rentang usia saja sih. Mau dia berprestasi atau tidak ada peran keluarga dan teladan di rumah juga ya, menjadikan remaja yang bertanggungjawab.
    Artikelnya keren Kak…

    Reply
  • April 26, 2021 at 3:25 am
    Permalink

    Karena merasa ada pembenaran dan pembiaran dari tindakannya yang negatif tersebut, makanya nggak heran jika makin banyak aja remaja yang bandel, bahkan sebelum memasuki usia remaja pun sudah mulai terlihat tingkah polanya yang badung.

    Bibit unggul itu tergantung dari kualitas pendidikan di rumahnya dari orang tua yang mendidiknya. Kalau iman dan prinsipnya sudah kuat, maka insha Allah nggak akan terpengaruh dengan lingkungan yang ada.

    Reply
    • April 27, 2021 at 2:58 am
      Permalink

      Inilah pentingnya orang tua berilmu sebelum berumah tangga. Keluarga harus menanam pondasi yang kuat bagi anak sebelum dilepas ke luar.

      Reply
  • April 26, 2021 at 4:29 am
    Permalink

    Masya Allah, ternyata di Indonesia banyak yang bisa dijadikan contoh terbaik yang layak jadi teladan bagi anak usia muda belasan tahun. Ada Muhammad Natsir, Imam Zarkasyi, dan Tahmah El Yunusiyah. Keren bangettttt.

    Reply
    • April 27, 2021 at 2:53 am
      Permalink

      Banyak banget Mba. Kagum pada beliau-beliau yang bisa berkiprah di usia muda sehingga lahirlah negeri bernama Indonesia.

      Reply
  • April 26, 2021 at 5:05 am
    Permalink

    Iya, istilah remaja muncul kemudian. Mereka makhluk yang setengah anak setengah pemuda. Serba tidk jelas.
    BTW sya jadi ingat dulu beberapa kali jadi narsum perihal remaja.

    Reply
    • April 27, 2021 at 2:51 am
      Permalink

      Waaahh… mesti banyak berguru nih sama Mba Susi. Saya masih belajar tentang remaja ini.

      Reply
  • April 26, 2021 at 6:03 am
    Permalink

    Wah baru tau banget lhoo kak. Serius.
    Kemarin bikin inovasi non aplikasi di kantor pakai remaja. Padahal untuk urusan keagamaan. Jadi merasa bersalah 🤐🤐

    Reply
    • April 27, 2021 at 2:49 am
      Permalink

      Semoga sedikit catatan ini bisa bermanfaat Mba.

      Reply
  • April 26, 2021 at 3:54 pm
    Permalink

    Kajian yang menarik mbak. Benar juga, Indonesia mengenalnya dengan Sumpah Pemuda, Bukan Sumpah Remaja. Padahal pada saat itu yang berada di garis depan adalah remaja

    Reply
  • April 27, 2021 at 2:50 am
    Permalink

    Remaja emang masih labil banget. Pikirannya masih galau. Tindak tanduknya masih memikirkan diri sendiri tanpa terlalu memikirkan resiko kedepannya. Namun itulah proses. Setelah dewasa mereka akan berubah cara berpikirnya

    Reply
    • April 27, 2021 at 9:13 pm
      Permalink

      Benar banget. Tapi kalau menilik sejarah, kok masa ini gak bisa ditemukan ya pada generasi terdahulu? Mereka bisa matang dan berkiprah sedini mungkin. Sedangkan di zaman now, kebanyakan terjebak dalam masa galau ini. Bahkan ketika jadi ortu pun masih kebawa-bawa. Menurut saya ini perlu perhatian banget.

      Reply
  • April 29, 2021 at 6:58 am
    Permalink

    Ah, tulisan yang nyindir banget. Jadi hakikatnya remaja itu sebuah kondisi psikologis ya, bukan sebuah fase perkembangan fisik dari seseorang. Hmmm… mudah-mudahan gak ada lagi remaja dalam diri saya hikss…

    Reply
  • April 30, 2021 at 4:06 pm
    Permalink

    remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang tentunya penuh dengan permasalahannya. semua orang tua wajib mempunyai pengetahuan seputar remaja, agar bisa mengarahkan mereka dengan lebih baik…

    Reply
  • May 17, 2021 at 5:28 am
    Permalink

    Tantangan menjadi orangtua, dan sbg orangtua mesti punya ilmunya, apalagi soal dunia anak remaja, kita mesti banyak tahu dan mengarahkan mereka jika salah

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *