Step by Step Prosesi Umrah yang Sering Disalahpahami

“Menurutmu saat Umrah itu apa saja yang dilakukan?”, Pertanyaan ini saya ajukan saat melakukan survey kecil-kecilan tentang pengetahuan seputar Umrah. Ternyata masih ada beberapa orang yang salah paham terkait hal ini. Berikut beberapa jawaban yang sempat saya ingat.

  1. Umrah = Mini Haji atau haji kecil

Rangakaian ibadahx sama dgn ibadah Haji…tp ga ada wukuf…krn wukuf hax ada 1x pelaksanaanx yaitu d bulan haji.”

            “haji kecil, beribadah kepada Allah tapi gak selengkap ibadah haji.. karena belum pernah tauknya itu.

  1. Salah paham soal waktu pelaksanaan

“Sebelum berangkat umrah pertama kali, saya pikir umrah itu rangkaian ibadah (mulai dari miqat, thawaf, sa’i, tahalul) yang memakan waktu berhari2. Ternyata hanya 2 jam saja. Maklum saat itu internet belum spt skrg…

            “Aku pikirnya umrah itu tawaf (mengelilingi Ka’bah) terus, gak berhenti-berhenti. Ya kecuali buat makan, dll. ”

            “Saya mikirnya umrah itu seluruh kegiatan selama di tanah suci, jadi kalau ada yang bilang ke tanah suci sembilan hari,  saya mikirnya selama sembilan hari apapun yang dilakukan namanya umrah.”

  1. Frontal

“Beribadah”

            “Ga usah naif, jelas pengen lihat Kabah dari dekat.. posting sosmed.. pulang2 cerita pengalaman disana padahal ga ada yang nanya… huuehee

            “klo menurut saya umrah kaya piknik ke Mekkah ga harus nunggu bulan haji bisa kapan aja saya jga belum umrah dan haji sih hehehe”

            “Saya gak punya pikiran apa-apa. Intinya mau ke tanah suci terus lihat Ka’bah.”

Sebenarnya masih ada beberapa tanggapan lain lagi tapi kurang lebih seperti kalimat-kalimat di atas. Alhamdulillah ada juga beberapa yang jawaban yang tepat. 😊

Melihat banyaknya jawaban yang masih kurang tepat, maka tulisan ini mencoba untuk sedikit berbagi apa yang diketahui. Tulisan ini tidak membahas fiqih umrah secara lengkap ya. Kalau yang komplit bisa tanya sama yang lebih ahli atau baca buku.

Tulisan ini hanya garis besar pelaksanannya saja. Ya, seperti gambaran umum gitu lah biar pembaca yang belum ke tanah suci bisa punya informasi awal.

Ok, Check it out…. 😁

  1. Umrah = Haji Mini

Yups, kurang lebih demikian. Jadi umrah itu kegiatannya sebagian dari kegiatan haji. Bedanya kalau haji sudah ditentukan waktu patennya. Sedangkan umrah waktunya bisa sepanjang tahun.

Hal lain yang juga berbeda adalah saat Haji ada prosesi wukuf di Arafah, Mabit (nginap) di Mina dan Muzdalifah, melempar jumrah, dan disyariatkan untuk menyembelih kurban. Kurang lebih demikian perbedaan yang paling mencolok antara umrah dan haji. Masih ada lagi perbedaan-perbedaan lain.

  1. Waktu Pelaksanaan dan Kegiatan Apa Yang Dilakukan

Umrah itu bisa jadi hanya berlansung beberapa jam saja atau mungkin seharian. Tergantung situasi dan kondisi jamaah.

Maksudnya gimana?

Begini, secara simple umrah terdiri dari 4 rukun umrah yaitu Niat ihram, Thawaf di Ka’bah, Sa’i antara Shafa dan Marwah, Tertib. Keempatnya ini, kalau salah satunya ditinggalkan maka umrahnya tidak sah dan wajib mengulang rukun yang ditinggalkan. Jadi emang betul-betul harus diperhatikan.

Selain rukun tadi, ada juga 2 wajib umrah yang harus diperhatikan yaitu Berihram dari miqat yang dilewati dan  Tahallul. Wajib umrah ini kalau ditinggalkan maka harus membayar DAM (menyembelih satu ekor kambing, atau sepertujuh sapi atau sepertujuh onta).

Nah, jika diringkas  yang dilakukan  jamaah umrah itu ada empat :

  1. Ihram

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ihram nih.

  1.  Sebelum memakai ihram, mandilah, bagi laki-laki pakai minyak wangi pada badan bukan pada pakaian.
  2. Pakaian ihram bagi laki-laki adalah kain putih-putih tanpa jahitan sedangkan pada perempaun bebas asalkan memenuhi syarat menutup aurat. Nah, biasanya kalau jamaah dari Asia Tenggara kan pakai mukena putih. Itu seringkali kainnya transaparan jadi sebaiknya pakai dalaman kerudung. Khawatirnya kalau tidak dilapisi justru jadi tidak memenuhi salah satu syarat hijab yaitu tidak transparan.
  3. Kalau sudah sampai di Miqat, lafalkan niat –Labbaika Allahumma umratan- lalu perbanyak membaca kalimat talbiyah – Labbaika Allahumma labbaik ‘aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah’- . Bacalah sebanyak-banyaknya
  4. Perhatikan larang-larangan ihram seperti pakai wangi-wangian, debat perkara yang sia-sia,  membunuh binatang, jima, dll

 Catatan : pas niat ini nih yang menentukan waktunya. Misal nih, jamaah dari Indonesia yang sampai Jeddah sore hari. Itu sudah niat sejak di pesawat, ketika pesawat berada sejajar bukit Yalamlam. Sejak itu berlaku larangan-larangan ihram. Yang artinya sudah termasuk sedang umrah. Sampai Jeddah sudah Maghrib + Isya. Berangkat kurang lebih satu jam ke Mekkah.

Kondisi perjalanan yang melelahkan membuat jamaah tidak fit. Maka bisa diputuskan untuk tidur dulu dan kemudian melanjutkan setelah bangun. Bisa setelah tahajjud atau setelah shalat subuh. Yang penting tetap menjaga larangan-larangan umroh. Yang laki tidak boleh pakai baju berjahit meski beraktifitas di hotel. Laki maupun  perempuan tidak boleh memakai wangi-wangian baik itu sabun, bedak, dll.

Jamaah Indonesia yang pesawatnya mendarat di Bandara Jeddah maka mengikuti miqatnya orang Yaman yaitu di Bukit Yalamlam. Sedangkan jika mendarat di bandara Madinah maka miqatnya di Dzulhulaifah Bir Ali atau Masjid Bir Ali.

2. Thawaf

Ini rangkaian ke dua dimana kita sudah sampai ke Masjdil Haram. Lantunan kalimat talbiyah dihentikan berganti dengan doa-doa yang disunahkan seperti doa masuk mesjid, doa melihat Ka’bah, dll.

Source : Dok. Pribadi

Thawaf ini dimulai dari Hajar Aswad (sisi di sebelah kanan pintu Ka’bah) dengan menciumnya dan membaca ‘Bismillahi wallahu akbar’ . jika jauh dari Hajar Aswad maka tidak perlu paksa cium, cukup diisyaratkan dengan tangan kanan. Lalu mulai berputar dengan emmperbanyak doa dan zikir. Biasanya ada buku doa yang disediakn travel tapi itu cukup jadi panduan saja. Tidak perlu berpatokan pada doa-doa dari buku. Bacalah doa dari hati dan benar-benar berharap pada-Nya (kalau berpatokan pada buku, saya pribadi tidak khusyuk ).

Pada sisi Ka’bah yang lain ada rukun Yamani. Sunnahnya ini diusap tpi kalau dari jauh tidak perlu berisyarat. Cukup membaca doa sapu jagat ‘Rabbana atina fid-dun-ya ḥasanataw wa fil-akhirati ḥasanataw wa qina ‘ażaban-nar”’. Baca ini sampai kembali ke Hajar Aswad. Ulangi sampai tujuh kali.

Source : Madaninews.id

Thawaf ini bisa dilakukan dilantai dasar yang merupakan tempat Ka’bah atau di lantai dua dan lantai tiga. Hanya saja di lantai dua dan tiga setiap putarannya berjarak sekitar 1 km. Jadi, jika tujuh putaran berarti harus berjalan 7 km (Inilah pentingnya persiapan fisik sebelum haji atau umrah).

Jika memilih thawaf di lantai dasar apalagi mendekat ke Hajar Aswad maka pasti berdesak-desakan dengan jamaah dari seluruh dunia. Jam berapapun itu. Tengah hari maupun tengah malam tidak pernah sepi.  Butuh perjuangan ekstra karena harus desak-desakan, Lengah sedikit kita bisa terinjak-injak.

Kalau fisik tidak mampu maka tidak perlu dipaksakan. Namun ada juga jamaah yang walaupun berada jauh dari Ka’bah dan hanya mengikuti putaran jamaah tapi Allah mudahkan mencium Hajar Aswad. Ya mungkin tergantung amal dan perbuatan sih. 😊

So, tinggal pilih kalau mau jalan santai menikmati thawaf  bisa pilih lantai dua atau tiga.

Usai thawaf,  disunnahkan  shalat dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim. Menghadap Ka’bah dengan membaca Surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun pada rakaat pertama. Sedangkan rakaat kedua membaca surat Al Fatihah dan surat Al-Ikhlas.

Setelah itu pergilah ke kran air Zam-Zam, minum lalu siram atau usap ke kepala.

Selanjutnya menuju bukit Shafa untuk mulai Sa’i. Tapi sebelum ke bukit Shafa disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad. Jika jauh maka cukup diisyaratkan dengan tangan.

  1. Sa’i
Source : Dok. Pribadi

Sa’i dimulai dari bukit Shafa menuju bukit Marwah dengan jalan dan berlari kecil di antara keduanya. Jaraknya kurang lebih 500 meter. Untuk 7 kali bolak balik berarti jarak yang harus ditempuh 3,5 km.

Ketika mendaki bukit Shafa, bacalah Innas shafaa wal marwa min sya’aa irillaah.

Di atas bukit, mengahdaplah ke arah kiblat sembari mengangkat tangan dan membaca Laa ilaaha illallaahu wahdahuula syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun . Laa ilaaha illallaahu wahdahu anjaza wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu.

Setelah itu mulailah berjalan. Saat tibda di lampu hijau, laki-laki dianjurkan berlari semampunya.

Ketika sampai di bukit Marwah kembali berdoa sebagaimana di bukit Shafa. Setelah itu kembali dan perbanyak berdoa.

Oh ya, jangan membayangkan Shafa dan Marwah layaknya bukit yang biasa di lihat. Bukit Shafa dan Marwah sudah masuk kawasan Masjidil Haram. Panas atau hujan gak jadi masalah. Kita juga jalan dan larinya bukan lagi di atas batu-batuan grurun tapi di atas lantai marmer.

Meski secara fisik kita tak lagi bisa merasakan perjuangan Bunda Hajar ketika mencari air buat Nabi Ismail kecil. Namun, secara psikis tetap kita harus meneladani bunda Hajar. Tentang perjuangan dan tentang hak prerogatif Allah untuk memberikan rezeki. Intinya lakukan ikhtiar terbaik dan biarkan Allah menentuakan tempat terbaik dan waktu terbaik untuk terjadi.

Sa’i ini berawal di bukit Shafa dan berkahir di Marwah. Jalan pertama itu dihitung satu ketika sampai di bukit Marwah. Intinya bilangan genap selalu di Shafa dan bilangan ganjil selalu di Marwah.

  1. Tahallul

Nah, setelah prosesi Sa’i waktunya utnuk tahallul. Keluar dari Marwah dan carilah posisi untuk menggunting rambut. Bagi laki-laki di cukur rata dan lebih afdal dengan menggundul, sedangkan perempuan dipotong ujung rambut seukuran satu ruas jari. Jadi tidak perlu buka kerudung ya… 😊

Alhamdulillah…. selesai deh umrahnya. Teman-teman sudah bisa melakukan kegiatan seperti biasa. Jika mau mengulang, harus keluar dulu dari tanah haram. Yang terdekat dari Mekkah adalah Qarnul Manazil, Masjid Ji’ranah, dan

Jika tidak umrah, perbanyaklah berada di Masjidil Haram. Kumpulkan pahala sebanyak-banyaknya di tempat yang setiap ibadahnya diganjar pahala 100.000 kali lipat dibanding tempat lain di muka bumi ini.

Penting : Saat prosesi Umrah. Tidak usah foto-foto. Fokuslah beroda. 

Masih banyak kok kesempatan lain kalau mau buat kenang-kenangan. Misalnya mau foto seolah-olah thawaf, bisa lain kali saat berada di Masjidil Haram, turun ke lantai dasar terus cekrek. Atau mau foto pas Sa’i, bisa numpang lewat di jalurnya saja terus cekrek.

Jangan lupa persiapan fisik ya.

Ok, teman. Mungkin itu saja yang bisa saya bagi. Semoga Allah mudahkan kita menjadi tamunya. Jika dirasa bermanfaat, silahkan bagikan. 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *