Selaksa Janji di Sayap Izrail

Alhamdulillah cerpen dengn judul ‘Selaksa Janji di Sayap Izrail” berhasil masuk dalam TOP 25 Lomba Cerpen tingkat ASEAN yang diselenggarakan oleh Edurooms. Selamat membaca. Semoga bermanfaat 🙏

*****

Tubuh kurus Ayah terbaring lemah dengan netra yang tak lagi membuka sejak sore tadi. Tergambar kelelahan kala oksigen dan karbon dioksida melakukan atraksi pergantian posisi. Kanker nasofaring yang bersarang sejak dua tahun lalu tampak telah sukses memuaskan ambisinya merusak sel-sel sehat. Hanya gerak naik turun dada yang masih menyisakan yakin bahwa harapan hidup itu masih ada.

Satu pinta yang terus kurapalkan dalam hati. Semoga Malaikat Izrail tak sedang menerima tugas mengunjungi rumah kami. Jarum jam telah bergeser dari angka dua belas.  Beberapa kerabat yang menunggu di luar kamar tampak terkantuk-kantuk. Entah mengapa netra milikku masih saja awas. Teramat susah untuk menggeser pandangan dari sosok yang amat kucinta itu. Tampak tarikan napas yang semakin berat hingga akhirnya terhenti dalam waktu yang lama.

Otakku seakan membeku. Berupaya keras mencerna makna kejadian selintas lalu. Benarkah ia telah pergi? Secepat itukah Malaikat Izrail menjemputnya? Seutas tanya berkelindan tanpa mampu terucap. Perlahan suara isak tangis pelesat ke rongga pendengaran. Alih-alih ikut menumpahkan kesedihan, sulur-sulur saraf di tubuhku seakan lupa pada tugasnya hingga tak mampu bereaksi apapun.

Ah Ayah, mengapa secepat ini? Bukankah engkau masih punya janji untuk bercerita banyak hal? Otakku masih ingin mengajukan protes namun sebuah histeria ganjil telah lebih dulu menyeretku pada jejak-jejak kebersamaan kami.

***

Waktu pagi di sebuah rumah papan. Desah ombak terdengar tidak begitu jauh dari arah belakang rumah. Suara pewarta berita mengalun dari kotak hitam berantena. Memoriku secepat kilat memproses semuanya hingga aku seolah menonton kembali adegan demi adegan masa kecil.

Seorang gadis cilik bergegas keluar kamar. Tampak menuju ke sisi belakang rumah. Rok merahnya berayun mengikuti histeria sepasang kaki kecilnya.

“Makanlah! Nanti Ayah yang catat beritanya.” Belum juga sempurna duduknya, sebuah titah terucap. Membikin buku catatan dan sebuah pensil berpindah tangan.

Ya, aku ingat. Pekan itu sebuah rutinitas baru terlakoni. Melahap siaran berita sembari menikmati sarapan juga mencatat hal-hal penting yang terlintas. Ayah selalu setia mendampingi dan menyajikan jawab atas setiap tanya atas hal-hal yang tak kupahami.

Tak mengambil jeda, segera saja tangan kekarnya menuliskan setiap informasi yang dimuntahkan oleh sang pewarta. Nama negara, ibu kota, dan nama tokoh-tokoh penting yang lewat dalam lintasan suara pembaca berita tak luput dari catatannya. Bukan tanpa alasan, kala itu di kelasku tengah terjadi perang pengetahuan terbaru diantara para siswa.

“Ayah, Irak ibukotanya apa?” Diantara kunyahan kusodorkan pertanyaan pada lelaki yang bagiku seolah ensiklopedia berajalan itu.

“Baghdad.” Jawaban tersaji meski sang pemilik suara tak menoleh. Fokus mendikte apa-apa yang dianggapnya penting.

Kutangkap nama Baghdad dan gegas mengurungnya di salah satu neuron. Pagi itu sel-sel saraf di otakku sesak oleh koleksi amunisi baru. Sebut saja Benjamin Netanyahu, Yaseer Arafat, Bill Clinton, Sadam Husein, dan masih banyak lagi nama lain terpampang sempurna di buku catatan dengan tarikan pena khas Ayah.

Seringai puas terbit dari bibir kecilku. Merasa seolah pasukan perang yang telah siap bertempur dengan amunisi memadai.

“Ayah, kenapa akhir-akhir ini beritanya perang terus?” Sebait tanya kembali meloncat keluar.

“Masalahnya komplit. Amerika menuduh Saddam Husein menyimpan senjata pemusnah masal. Tapi paling juga itu masalah minyak” Ayah menjawab dengan tetap fokus pada siaran kegemarannya.

Senjata pemusnah masal? Masalah minyak? Otak kecilku mencernanya perlahan.

“Rana belum akan paham sekarang, nanti kalau kamu sudah besar kita akan cerita lebih banyak.” Suara bariton yang keluar dari pita suara lelaki itu meredam wajah kusut masaiku.

***

Secepat kilat, semuanya berpindah. Sebuah meja makan berisi aneka hidangan yang dikelilingi oleh enam orang. Memoriku kembali berproses. Aku ingat, saat itu aku sudah remaja tanggung, SMP kalau tidak salah. Selain Ayah dan Ibu, tiga orang lainnya adalah adiku-adikku.

“Ada yang mau cerita? Sepertinya ayah menangkap aroma tidak sedap di dalam rumah ini.” Ritual makan siang baru saja usai. Ayah membuka percakapan.

Sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga kami, meja makan tak sesederhana bentuk fisiknya. Dalam keluarga kami, benda persegi empat yang teronggok bisu itu bermakna banyak hal. Arena merenda canda, memantik diskusi, dan juga arena sidang -satu hal yang paling kutakuti- jika berbuat kesalahan.

Baca juga cerpen lainnya : Dua Belas Jam Dari Sekarang

Pertanyaan Ayah masih menggantung di udara. Aku diam saja seraya menahan gejolak dalam hati. Menggerutui rasa tidak nyaman yang tetiba menghimpit. Aku paham apa yang dimaksud oleh Ayah. Ini masalah perang dingin antara aku dan Isty yang kembali terjadi. Entah bagaimana, Ayah dan Ibu seolah detektif  andal yang selalu saja tahu apa yang terjadi pada kami anak-anaknya.

“Saya tidak tahu salah apa, tiba-tiba saja dia tak  mau lagi berbicara denganku” Isty mengurai jawab.

Dia yang dimaksudkan oleh Isty adalah aku. Sang kakak kandung yang sebenarnya tak pernah punya alasan jelas mengapa membencinya. Yang jelas, ketika perasaanku sedang tidak baik maka tanpa alasan apapun aku akan puasa bicara padanya. Satu hal yang kerap meloloskan bulir-bulir air dari mata wanita yang kucintai –Ibu-.  Dan Ayah selalu sigap menjadi hakim untuk menyelesaikan.

Ayah berdehem. Sebuah pertanda khas bahwa nasihat demi nasihat kehidupan akan kembali terlontar. “Semuanya tolong dengar dan pikirkan. Syukur jika bisa dijadikan pelajaran.” Diteguknya air yang masih tersisa dalam gelas. “Begini, hidup kita di dunia ini selalu butuh orang lain. Sehebat apapaun kita. Kita tak pernah tahu kapan kita membutuhkan orang lain. Tapi percaya, pasti ada saatnya.”

Hening menjeda sesaat.

“Ketika kita dalam masalah, hanya orang-orang terdekatlah yang akan tetap ada di sisi. Mungkin saat ini Rana punya banyak teman. Semua bisa dilakukan sendiri. Tapi ingat, tak ada manusia yang tak pernah sakit. Saat itu tiba, orang lain hanya akan menjenguk sebentar. Sedang saudara kita, sebenci apapun kita padanya, ia lah yang setia menemani dan tanpa sungkan kita minta pertolongannya.”

Nasehat Ayah kembali sukses meloloskan bulir bening dari netraku. Beliau  selalu berupaya mencari celah mengikis kesombonganku meski tebalnya keegoisan seolah karang yang membentengi hati.

“Ayah bangga, Rana sebagai kakak sudah memberi contoh yang baik pada adik-adiknya dengan selalu menjaga salat. Tapi Rana tahu tidak apa makna salat?”

Aku masih memasang mode diam. Posisi sebagai tersalah membuatku ciut bahkan untuk mengangkat wajah. Satu hal yang menancap kuat dalam memoriku adalah Ayah tak pernah memarahi kami kecuali untuk hal-hal fatal. Dalam masalah-masalah yang masih bisa dimaklumi Ayah hanya akan menjentikkan nasehat-nasehat. Santai namun lebih berefek dibanding hukuman fisik.

Pertanyaan Ayah tentang makna salat masih menggantung di udara. Lalu seperti biasa beliau akan menjawab sendiri.

“Salat punya makna-makna luar biasa dalam setiap gerakannya. Coba perhatikan gerakan terakhir. Pada gerakan salam kita menoleh ke kiri dan ke kanan. Mendoakan keselamatan pada orang-orang yang berada di samping kita. Maka seharusnya semakin sering kita salat, semakin baik hubungan kita pada sesama.

Bukankah begitu?”

Seolah dikomando, semua yang menyimak menganggukkan kepala.

“Itu baru untuk satu gerakan, masih banyak hikmah berserakan dalam gerakan-gerakan lainnya. Tapi nantilah kalau kalian sudah dewasa baru kita bercerita lebih banyak.”

***

Adegan kembali berganti. Kali ini berlatar laut dan suasana sore. Salah satu neuronku menebal. Menyajikan informasi bahwa ini dek kapal Nggapulu. Kapal besar pertama yang kutumpangi bersama ayah dan Isty menuju kota Makassar.

“Indah ya sunsetnya[1]?” Ayah melontar tanya bersama desah angin sore dari buritan kapal.

Aku dan Isty seolah mahfum bahwa pertanyaan tadi hanyalah basa basi dari banyak hal yang ingin Ayah sampaikan. Kompak kami mengangguk.

“Sejauh yang kalian ketahui, adakah yang sudah berhasil sampai ke matahari?”

Kami kompak menggeleng untuk kemudian Isty menyusulkan argumen. “Jangankan sampai, benda yang coba mendekat dari jarak ribuan kilometer saja bisa hangus dalam sekejap.”

“Lalu, kekuatan apa yang bisa membuatnya berputar begitu cepat setiap harinya? Bukan hanya sehari tapi sejak jutaan tahun lalu.”

“Ya, itukan kuasa Tuhan, Yah.” Kulafal jawaban singkat

“Semoga keyakinan itu bisa terus kalian jaga. Esok lusa apalagi di kota sebesar Makassar, kalian akan bertemu banyak orang dengan banyak varian pemahaman. Ada yang begitu yakin akan keberadaan Tuhan namun ada pula yang mengeliminasi keberadaan-Nya.”

Sejenak hening menjeda. Ayah membiarkan kami mencerna kalimat-kalimat tingkat tingginya sebelum melanjutkan.

“Ayah harap bijaklah dalam menyerap ilmu. Semoga Ayah bisa menjadi teman diskusi yang menyenangkan untuk kalian dalam hal apapun. Saat kalian pulang nanti, semoga janji-janji Ayah untuk bercerita lebih banyak bisa tertunaikan.”

Kurasakan tangan ayah merangkul bahu kami. Sekerat kehangatan menjalar sempurna bersamaan dengan sang penghangat bumi berpindah tugas.

***

Organ pendengaranku menangkap suara Ibu yang akhirnya membawaku kembali pada dunia nyata. Kembali dengan setumpuk rindu atas rentetan kenangan yang baru saja terlintas. Semuanya seolah begitu nyata. Namun, suasana kelabu dengan suhu kesedihan derajat tinggi kembali mendominasi. Menyeret paksa pada sebuah kenyataan pahit bahwa kini aku dan Ayah dijeda oleh sekat yang tak mungkin dilewati. Kini aku hanya bisa mengunjunginya dalam jejak-jejak kerinduan seraya memunguti tumpahan nasihat yang berceceran di sepanjang perjalanan bersama.

Malaikat Izrail telah purna melaksanakan tugas. Ia telah membawa Ayah terbang ke  alam yang tak mampu terindra oleh manusia. Pergi bersama selaksa janji yang belum tertunaikan. Kulirihkan doa sepenuh jiwa mengiring kepergiannya. Semoga kelak Sang Kuasa berkenan mengumpulkan kami di jannah-Nya. Tempat dimana kami bisa menuntaskan cerita yang tertunda.

[1] Matahari terbenam

15 thoughts on “Selaksa Janji di Sayap Izrail

  • March 6, 2021 at 12:30 pm
    Permalink

    Baperrrrrr 🥺🥺
    Kerennnnn icha 💕

    Reply
  • March 6, 2021 at 1:16 pm
    Permalink

    Kaka😍 sangat sangatttt bermanfaat.
    Pelajaran yg dapat diambil pertama harus lebih tahu lagi makna solat dan kedua kasih sayang saudara itu tiada batas. dll.

    Reply
    • March 6, 2021 at 1:26 pm
      Permalink

      Alhamdulillah, klau ada sedikit manfaat yg bisa d ambil. Btw, ini ceritanya ‘based on true story’ 🤭🤭

      Reply
      • June 21, 2021 at 1:42 am
        Permalink

        Ayaaaaaah 😭😭😭😭😭😭 rindu sama ayahku mbaaa. Ya Allah, semoga ayah senantiasa sehat di kampung halaman kami.

        Ayahku sosok yg irit bicaranya. Tapi kalo sekali sudah bicara. Ya seperti ayah Rani ini jugalah. Apa yg keluar dari mulutnya selalu sarat akan makna.

        Cerpen yg bagus mba. Terima kasih sudah kasih santapan bergizi buat saya pagi hari ini.

        Reply
        • June 21, 2021 at 7:01 pm
          Permalink

          Semoga Ayah Mba sehat-sehat. Para ayah emang biasanya irit bicara tapi cintanya full2 gas. Terima kassih juga atas apresiasinya.

          Reply
  • June 20, 2021 at 12:42 am
    Permalink

    Kisahnya singkat
    Tapi padat sekali. Banyak pelajaran yang didapatkan dari percakapan bersama Ayah
    Dan aku jadi kangen bapaaak
    Masa yang tak akan terulang, hanya menghadirkan kenangan dan potongan2 adegan ketika bapak masih ada

    Terimakasih untuk cerita penuh makna ini

    Reply
    • June 20, 2021 at 11:32 am
      Permalink

      Terima kasih atas apresiasinya kak. Cerita itu untuk mengenang ayah saya dan pelajaran-pelajaran hidup yang beliau tekanakan pada kami anak-anaknya.

      Reply
  • June 20, 2021 at 11:59 am
    Permalink

    saya kalo baca cerpen, suka loading dulu mencerna maknanya, soalnya masih ada beberapa kata yang masih asing di telinga saya. Maklum saja, saya bukan orang yang jago bikin tulisan cerpen atau puisi dan sejenisnya. Jadi banyak belajar lewat blog super keren ini.

    Prestasinya luar biasa keren, bisa masuk TOP 25 lomba cerpen tingkat ASEAN. Sukses terus ya. Semoga karyanya bisa menginspirasi banyak orang dan bisa diterima di seluruh dunia.

    Reply
    • June 21, 2021 at 7:03 pm
      Permalink

      Aamiin yaa rabbal alamin. Terima aksih bang Hendra. Semoga sukses untuk kita semua.

      Reply
  • June 20, 2021 at 11:37 pm
    Permalink

    Sejak beberapa tahun lalu, saya sudah jarang baca cerpen, sesekali ada di blog teman-teman, dan cerpen Mbak Waode ini diksinya bisa dibilang tingkat tinggi. Terlepas dari saya yang kesulitan membaca alurnya, amanat dari cerpen ini sudah jelas terpampang. Selamat.

    Reply
  • June 21, 2021 at 1:19 am
    Permalink

    Dalam narasi yang pendek-pendek, tersimpan banyak pesan yang tak menggurui. Tentang Tuhan, dan tentang hubungan dengan manusia lainnya. Keren nih, semoga bisa berlanjut ke peringkat yang lebih baik daripada 25 besar.

    Reply
    • June 21, 2021 at 7:02 pm
      Permalink

      Aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih Bang Doel. Semoga sukses untuk kita semua.

      Reply
  • June 21, 2021 at 2:18 am
    Permalink

    Malaikat Izrail telah purna menjalankan tugasnya ya Mbak, membawa ruh ayah ke alam lainnya pula. Tugas dan tanggung jawab ayah pun telah sempurna, mendidik dan membesarkan putra-putrinya sehingga menjadi anak-anak yg saleh salehah.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *