Review Buku #8 ‘I AM SARAHZA’

Selamat Hari Anak. Ddi hari anak ini saya ingin mereview sebuah buku bertema anak yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra. Bagi yang belum tau, Hanum adalah purti dari salah seorang petinggi negeri ini yaitu Bapak Amien Rais. Sebelum menulis I am Sarahza Hanum telah menelurkan beberapa buku yang memadukan antara religi dan traveling. Salah satu yang terkenal yaitu 99 Cahaya di Langit Eropa.

Ditengah berbagai ‘keberuntungan’ seorang Hanum. Dimana beliau aumni kedokteran gigi UGM, anak seorang petinggi, ternyata Mba Hanum sebagaimana manusia lainyya meiliki ujian tersendiri. Sebelas tahun merenda sabar dan memupuk harapan demi hadirnya buah hati dalam kehidupannya. Melalui buku ini, Mbak Hanum dan suaminya membagi cerita tentang perjuangan 11 tahun menanti Sarahza. Melewati rentetan usaha 6 kali IVF.

Buku I am Sarahza ditulis dengan menggunakan sudut pandang yang unik. Sarahza –makhluk langit- dan Hanum & Rangga –mahluk bumi-. Warning, dibebebrapa bagian buku ini ‘mengandung bawang’. Saat membacanya berulang kali saya dibuat menangis tersedu-sedu.

Sarahza dikisahkan sebagai masyarakat langit yang tengah menunggu antrian untuk lahir ke bumi. Tubuhnya berupa cahaya yang redup dan cerahnya tergantung seberapa besar harapan orangtuanya –Hanum dan Rangga-. Dia bersama makhluk langit lainnya ditemani oleh malaikat.

Membaca buku ini berkali-kali tetap saja menjatuhkan air mata. Terlebih pada bagian kasih sayang orang tua. Sosok bapak Amien Rais dan ibu bisa menjadi teladan dalam memeprlekaukan anak. Pun doa-doa yang tersodorkan dan segenaap usaha beliau berdua menjadi tangan panjang yang mengetuk-ngetuk pintu langit.

Perjuangan Hanum mengajarkan tentang mengahdirkan hati dalam setiap usaha. Memberikan kerpecayaan tertinggi pada sang Maha Rahim bahwa Dia mencintai makhluk-Nya dengan cara-Nya sendiri. Terkadang ada hal yangd ekat sekali untuk kita capai tapi Tuhan meminta kita melewati jalan panjang demi mendapat berbagai pengalaman dan menimmati naik turun serta hamaparan epmandangan disetiap jalan yang dilewati.

Selain perjuangan Hanum dan Rangga, buku ini juga menyuguhkan cerita-cerita yang menohok usaha dan eksabaran. Cerita Mbak Wenty di halaman 329 lagi-lagi sanggup menggelontorkan air mata.

Buku I am Sarahza serupa pesan yang dikirimkan pada para pejuang buah hati dan pejuang kehidupan.

“Enam kali bayi tabung, empat kali inseminasi, puluhan kali terapi, jutaan kali doa tak bertepi, berkalang badai depresi, hingga akhirnya satu Sarahza terjadi.” (Hal. 363)

 

Berikut beberapa kutipan yang menurut saya penting :

  1. Kesabaran tak melulu kemampuan menunggu, namun kemampuan mengisinya dengaan keberkahan (Hal. 317)
  2. Aku menengok diri, bertanya pada hati. Sudahkah selama ini aku bersungguh-sungguh pada Tuhan? Ataukah hanya formalitas? Ala kaddarnya? Yang penting bisa disebut sah beriman saja? (Hal. 285)
  3. Jika kamu merasa bahagia dan kangen dengan azan, itulah tanda Allah merangkul hamba-Nya. (Hal. 323)
  4. Allah adalah sang Maha Terpikat oleh hamba-Nya yang selalu memohon tanpa putus. (Hal. 345)
  5. Dalam waktu-waktu yangs angat membahagiakan jangan pernah berprasangka Allah akan menguranginnya. Justru, Bapak bayar nazar sebelum kamu melahirkan. Sekarang malah Allah yang ‘berutang’ sama bapak. Dan kalau Allah berutang sama hamba-Nya, bapak yakin akan lunas beserta bunganya berlipat ganda. (Hal. 347)
  6. Pencapaian di dunia selalu lebih bermakan jika kau bisa mencapainya dengan segala perjuangan. (Hal. 357)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *