Review Buku #7 “Ghirah (Cemburu karena Allah)”

Setelah membaca buku ini saya diliputi banyak pertanyaan?

Jika Buya masih hidup, apakah yang akan dikatakannya melihat kondisi hari ini?

Jika Buya masih hidup, julukan apakah yang ‘orang-orang sok tau’ berikan terhadap Buya? Radikal? Intoleran? Kuno? Anti kemajuan? Anti Pancasila?

Ah., semua itu tentulah akan Buya dapatkan. Siapa saja yang hari ini masih punya ghirah, maka siap-siap saja dihadiahi julukan-julukan tersebut. Jika ia masih saja ngeyel ingin mencegah kemaksiatan, maka bui akan menanti sebab dianggap mengganggu ketentraman.

Baca Juga Review #4 Kiat Menjadi Guru Keluarga

Saya teringat beberapa waktu lalu Ibu Maimon Herawati seorang pakar psikolog dan parenting yang memprotes iklan sebuah girl band Korea karena pakaiannya yang sungguh tidak sopan dan tayang di jam-jam keluarga. Alih-alih protes beliau diapresiasi, belia malah diserbu oleh fans mereka. Mereka bar-bar berkomentar seolah manusia yang tak mengenal tata karam dan sopan santun.

Sungguh miris. Atas nama idola semua boleh. Seks bebas, LGBT, tontonan-tontonan boys love semua tak boleh dilarang. Apapun yang menjadi gaya hidup idola mereka seolah itulah kebenaran. Jika norma agama mengekang maka julukan radikal, intoleran, dan lain sebagainya siap ditembakkan secara membabi buta.

Apatah lagi Buya yang demikian frontal menyerang kebudayaan impor yang dibawa masuk hingga menggerus sendi-sendi agama dan moral.

Buya memprotes orang-orang yang berpacaran. Padahal hari-hari ini fenomena pacaran yang kebablasan dengan telanjang dipertontonkan. Kemaksiatan merajalela secara merata. Dari hiruk pikuk kota hingga sudut-sudut kampung yang senyap. Apakah masih ada yang berani menegur? Semua orang mahfum bahwa itu hak dia. Selama tidak mengganggu orang lain maka boleh-boleh saja.

Mau tinggal serumah kost tanpa ikatan perkawainan, biarkan.

Mau anak perempuan pulang malam dibawa oleh laki-laki, itu namanya gaul.

‘Toh mereka tidak mengganggu, kenapa mesti sewot? Dasar sok suci’ begitu umumnya yang kerap terdengar.

Anak perempuan dan laki-laki jalan berduaan dan orang tuanya melarang maka akan disebut kuno.

Semua itu tak lebih dari perang pemikiran yang hendak mencabut generasi muslim dari agamanya secara perlahan-lahan. Semua itu telah diingatkan oleh ‘Prof. Dr. Rasyidi dalam salah satu sidang Pimpinan Pusat Muhamadiyyah, yaitu bahwa semuanya telah diatur dan disusun dari luar untuk menaklukkan Indonesia yang merdeka dengan meruntuhkan pertahanan moral dan mentalnya. Sayangnya pula bahwa pelaksanaannya kadang-kadang terdapat dalam aparat negeri sendiri’ (Hal. 67)

 

Buku tipis dengan lebar yang tak seberapa ini benar-benar tamparan bagi siapa saja yang massih punya ghirah. Punya kepedulian terhadap sesama dan generasi.

12 thoughts on “Review Buku #7 “Ghirah (Cemburu karena Allah)”

  • July 17, 2021 at 4:16 pm
    Permalink

    Buku motivasi yg keren ini. Bener2 ngasih tamparan.

    Reply
  • July 18, 2021 at 6:52 am
    Permalink

    Miris ya kak budaya di luar saat seperti sekarang ini perlahan-lahan masuk ke dalam kehidupan Kita. Semoga Allah selalu Menjaga Kita agar tetap di jalan yang Lurus aamiin

    Reply
  • July 18, 2021 at 11:18 am
    Permalink

    Sekarang orang baik seolah dianggap aneh ya mbak. Namun ketika kemaksiatan dipertontonkan malah menjadi sesuatu hal yang lumrah. Sedihnya hidup di akhir zaman

    Reply
    • July 20, 2021 at 11:13 pm
      Permalink

      Ini juga sebenanrya jadi peluang bagi kita untuk menyebarkan dakwah. Semoga bisa termasuuk dalam orang-orang yang bisa bertahan di tengah gempran zaman.

      Reply
  • July 19, 2021 at 2:36 am
    Permalink

    Buku seperti GHIRAH ini benar-benar bisa membuka mata kita. mana yang seharusnya kita lakukan dan mana yang tidak boleh. mirisnya sekarang orang yang menjalankan perintah agama dianggap kuno. padahal inilah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat nanti.

    Reply
    • July 20, 2021 at 11:09 pm
      Permalink

      Betul banget Umm. Betapa susahnya hidupsaat ini dengan mempertahankan ajaran agama kita.

      Reply
  • July 19, 2021 at 3:36 am
    Permalink

    Penasaran buat baca secara langsung. Memang saat ini budaya luar yang masuk ke Indonesia begitu berbondong-bondong seakan tidak bisa dihentikan. Hanya pribadi yang harus pandai memilah dan memilih.

    Reply
  • July 25, 2021 at 5:09 pm
    Permalink

    Ya Rabb saya sedang diuji juga nih anak pertama disekolahkan di pesantren kok bisa2nya ngefans sama boyband K-Pop. Berharapnya sih hanya sementara, mudah2an bs dinetralisir yaa

    Reply
    • July 29, 2021 at 10:35 pm
      Permalink

      Aamiin yaa rabbal alamin. semoga hanya sementara Mba.

      Reply
  • August 2, 2021 at 1:29 pm
    Permalink

    Ma Syaa Allah bukunya pasti bagus ini ya, recomended buat dibaca, makasih udah sharing Mba. Tentu aja kita semua harus punya ghirah ya, walau ketika di suarakan akan ada orang-orang yang mempertentangkannya lagi juga, padahal dahwah yang disuarakan adalah untuk kebaikkan ya. Apalagi sekulerisme (pemisahan agama dalam kehidupan) udah masuk juga ke kehidupan sekitar kita ya, membuat sebagian orang jadi enggan diatur kehidupannya oleh agama

    Reply
  • August 12, 2021 at 12:23 pm
    Permalink

    Buku menarik dan edukatif… namun minim peminat biasanya… kalah dibandingkan novel pop yang diisi kisah cinta dramatis… ah..bangsa ini memang sedang mancari jatidirinya…

    Reply
  • August 19, 2021 at 2:54 am
    Permalink

    Wah ternyata yang orang luar lakukan itulah untuk mendoktrin orang Indonesia ya. Ih ngeri dah. Jangan sampai terjebak pokoknya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *