Review #4 Kiat Menjadi Guru Keluarga

Identitas Buku

Kiat Menjadi GURU KELUARGA –Menyiapkan Generasi Pejuang-

Penulis             : Dr. Adian Husaini

Penerbit           : Pustaka Arafah

Terbit               : 2019

Harga              : Rp. 45.000

***

Assalamualaikum, Sobat Waode.

Pada postingan kali ini saya ingin me-review sebuah buku berjudul ‘Kiat Menjadi GURU KELUARGA –Menyiapkan Generasi Pejuang-

Bagi saya, buku ini masuk dalam kategori buku tipis, hanya 102 halaman. Namun jangan pandang remeh jumlah halamannya. Ketika membuka tiap lembarnya, pembaca serasa sedang melahap jurnal tentang pendidikan keluarga. Jangan juga bayangkan jurnal dengan pembahasan berat. Buku ini dikemas dengan bahasa ringan dan mudah dipahami.

Sang Penulis –Dr. Adiaan Husaini- sejak lama berkecimpung dalam dunia pendidikan. Terutama  pendidikan Islam. Beliau juga tergabung sebagai peneliti di  INSIST (Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization).  Lembaga yang menyelenggarakan “Pendidikan Guru Keluarga” sejak tahun 2018 sebagai respon atas tidak adanya lembaga khusus yang menyiapkan ‘bagaimana menjadi orang tua yang baik’

Ustadz Budi Ashari, Lc pernah berkata bahwa untuk membuat robot seseorang perlu sekolah dan pelatihan bertahun-tahun. Namun untuk menghasilkan manusia –unsur terpenting dalam peradaban– tidak ada lembaga khusus yang menyiapkannya.

Baca Juga Review#1 Journey to Aqsa

Siapa Guru Keluarga?

Jujur deh, mendengar kata guru, apa sih yang terbayang dibenak kita?

Selama ini predikat guru hanya erat dikaitkan dengan orang-orang yang berada di lembaga persekolahan. Sehingga kerap muncul anggapan bahwa yang bertugas mendidik hanya guru di sekolah. Sedangkan orang tua merasa dengan memasukkan anak ke lembaga sekolah maka selesailah tanggung jawab pendidikan.

Benarkah demikian?

Dalam pandangan Islam, tanggung jawab pendidikan ada pada orang tua BUKAN sekolah ataupun pesantren. Pemahaman inilah yang berusaha ditanamkan oleh penulis pada bagian kesatu dari buku Guru Keluarga.

Kenapa harus ada Guru Keluarga?

Jawaban pertanyaan di atas bisa didapatkan saat membaca pengantar penerbit. Keberadaan Guru Keluarga sangat penting sebab setiap generasi memilki tantangannya masing-masing. Hanya para pejuanglah yang bisa menghadapi tantangan zaman. Generasi pejuang harus disiapkan melalui serangkaian ikhtiar.

Sayangnya upaya menyiapkan generasi pejuang masih banyak yang tidak menyadari bahkan tidak menemukan solusinya.

Sebagaimana pernyataan seorang guru besar Georgetown University, USA bahwa masyarakat barat (western society) telah meraih berbagai kesuksesan. Misalnya, mereka telah mampu mengontrol pertumbuhan penduduk, menghasilkan kekayaan, dan mengurangi kemiskinan. Bahkan mungkin dalam waktu dekat, akan mampu menunda kepikunan dan kematian.

Tentu sebuah prestasi yang terang benderang dapat kita saksikan. Namun dibalik semua itu, dalam bukunya yang berjudul Tragedy and Hope : A Histort of The World in Our Time, Prof. Caroll Quigley membuat kesimpulan menarik “something we clearly do not yet know, including the most important of all, which is how to bring up children to form them into mature, responsible adults”

Prof. Quigley mengeluhkan bahwa satu hal yang tidak mereka pahami bagaimana mendidik anak-anak mereka menjadi orang tua yang matang dan bertanggungjawab.

Artinya ‘dengan segala kemajuan teknologi, mereka bisa menciptakan robot tapi tidak bisa menciptakan calon orang tua berkualitas’

Generasi Pejuang, Berjuang untuk apa?

Pada bagian keempat penulis menisbatkan judul ‘Awas, Ini Ujian Iman’ . Pemilihan kalimat tersebut bukannya tanpa alasan. Di beberapa halaman penulis menuliskan pendapatnya dan pendapat beberapa ahli tentang fenomena zaman now.

Hal. 57 -Kita perlu menyadari bahwa saat ini umat manusia dan juga umat Islam sedang dikuasai oleh satu peradaban besar bernama peradaban Barat modern. Melalui globalisasi, sekarang Barat mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia.-

Hal 59 -Muhammad Asad (Leopold Weiss) mencatat, bahwa Peradaban Barat modern hanya mengakui penyerahan manusia kepada tuntutan-tuntutan ekonomi, sosial, dan kebangsaan. Tuhannya yang sebenarnya bukanlah kebahagiaan spiritual melainkan keenakan dan kenikmatan duniawai.-

Hal 80 –Prof Naquib Al Attas dalam tulisannya The Dewesternization of Knowledge mengungkapkan bahwa sepanjang sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan. Tetapi, belum pernah mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh Peradaban Barat saat ini.-

Dari pemaparan tersebut kita bisa melihat bahwa dibalik gemerlap kemajuan teknologi terdapat masalah-masalah fundamental dalam kehidupan modern. Pola hidup konsumtif dan hedon mengakibatkan eksploitasi alam dan manusia. Ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, ketidakadilan menjadi buah yang tidak bisa terpisahkan dari pola hidup non spiritual ala Barat.

Inilah tantangan  umat manusia saat ini. Dibutuhkan generasi yang siap berjuang untuk mengubahnya.

Tips Menyiapkan Generasi Pejuang

Terkait formula perubahan dibahas pada bagian ketiga ‘Siapkan Generasi Pejuang’. Ya, kebangkitan selalu dimulai dari para pejuang. Tidak terkecuali negeri bernama Indonesia. Kehadirannya merupakan buah perjuangan generasi pejuang. Dalam lintasan sejarah, kita banyak menyaksikan bagaiaman para pejuang bergerak.

Pada halaman 40, penulis memberikan referensi yang penting untuk dibaca terkait strategi peradaban dan kebangkitan umat Islam. Sebuah buku berjudul Hakadza Zhahara Jilu Shalah Ad-Din wa Hakadza ‘Adat Al-Quds karya Dr. Majid Irsan Al-Kilani.

Dialih bahasakan dalam bahasa Indonesia oleh Asep Sobari Lc dan Amaludiin, Lc, MA dengan judul Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib.

Buku tersebut membahas tentang kiat Imam Al-ghazali dalam membangkitkan umat. Menurut Al Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan.

Baca Juga Review #2 “Journey to The Greatest Ottoman”

Oleh sebab itu, generasi pejuang haruslah menyeru pada hal makruf, mencegah kemungkaran, dan menegakkan kebenaran. Generaasi ini dapat disipakan melalui :

  • Tarbiyah (pendidikan)
  • Ta’lim (pengajaran
  • Ta’dib (mencetak manusia beradab)

Pada halaman 24 dijabarkan enam materi pokok yang harus dimilki oleh seorang guru keluarga yaitu (1) Islamic Worldview, (2) Pendidikan Anak, (3) Fiqhud Dakwah, (4) Fiqih Keluarga Sakinah, (5) Tantangan Pemikiran Kontemporer, (6) Sejarah Peradaban Islam

Nah, sebagai orang tua atau calon orang tua sudahkah kita menyiapkan semua itu?

 

 

15 thoughts on “Review #4 Kiat Menjadi Guru Keluarga

  • April 10, 2021 at 3:42 pm
    Permalink

    Guru keluarga nih ide menarik ya kak jika berpegang pada panduan seperti kitab suci pasti ada jalan keluarnya ya kak untuk mengajar anak kita sendiri

    Reply
  • April 11, 2021 at 10:04 pm
    Permalink

    Awalnya kupikir mau ngomongin guru Mbak, ternyata bukan ya. Kita sebagai guru keluarga, Tugas kita begitu banyak untuk menyeimbangkan diri yang multiperan ini. Berkeluarga memang perlu ilmunha, sedih sekali memang ketika angka perceraian semakin banyak terihat di kiri kanan. Artinya kita harus makin matang persiapan pernikahan untuk generasi selanjutnya supaya preventif terjadi hal demikian

    Reply
    • April 15, 2021 at 10:29 am
      Permalink

      Aduh aku tersindir. Orang tua juga jadi guru buat anak anaknya. Jadi haus ilmu saya gimana caranya jadi guru yang baik untuk anak anak saya. Buku yang bagus dan mendidik

      Reply
      • April 16, 2021 at 3:55 am
        Permalink

        Recomended untuk baca buku ini Mba. Full ilmu dengan pembahasan yang ringan dan mudah dicerna.

        Reply
  • April 13, 2021 at 2:32 pm
    Permalink

    Katanya bikin anak muda, yang susah itu membesarkannya. Masya Allah, kiat menjadi guru keluarga, bukan cuma guru bagi anak-anak, tapi juga guru bagi diri sendiri. Bukunya menarik, kalo cuma setebal 102 halaman, insya Allah bakal cepat dan semangat melahapnya.

    Reply
  • April 14, 2021 at 1:05 pm
    Permalink

    Pada bagian kedua, tentang tanamkan adab.
    Akar masalah yang menimpa umat Islam saat ini adalah “hilang adab” (Prof. Naquib Al-Attas)
    Begitu pentingnya masalah adab, maka bisaa dikatakan bahwa jatuh bangun nya umat Islam tergantung sejauh mana mereka memahami dan menerapkan konsep adab yg dimulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara.

    Adab sebelum ilmu.

    Reply
    • April 15, 2021 at 11:24 pm
      Permalink

      betul banget. Perkara adab ini menjadi hal penting yang sering terlupakan.

      Reply
  • April 15, 2021 at 1:36 am
    Permalink

    Saya sudah sering banget baca atau dengar nama Dr. Adian Husaini, tapi sampai sekarang belum sempat baca satupun bukunya. Sepertinya buku “Kiat Menjadi Guru Keluarga” ini mesti saya baca nih. Terima kasih untuk wawasannya Mbak

    Reply
    • April 15, 2021 at 11:26 pm
      Permalink

      Beliau dosen di Universitas Ibnu Khaldun. Selain buku beliau jugas ering menulis artikel. Banyak artikel beliau bertebaran utamanya tentang parenting. Sangat recomended untuk dibaca.

      Terima kasih kembali semoga bermanfaat.

      Reply
  • April 15, 2021 at 10:51 pm
    Permalink

    Jadi ingat tugas kita ini nggak ringan sebagai orangtua ya mba, karena mau nggak mau anak bukan hanya tumbuh dengan baik fisiknya saja tetapi juga kematangan berfikirnya. Gak cuma baligh tetapi lengkap Aqil baligh

    Reply
    • April 16, 2021 at 3:54 am
      Permalink

      Iya Mba terlebih sebagai muslim di zaman ini ada banyak banget tantangan terutama dari segi pemikiran.

      Reply
  • April 16, 2021 at 4:27 am
    Permalink

    memang ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Buku ini sepertinya kembali mengingatkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua. Guru dan sekolah hanya membantu saja

    Reply
  • April 17, 2021 at 6:24 am
    Permalink

    Udah lama gak baca-baca buku tulisan Pak Doktor Adian Husaini. Dulu sewaktu mahasiswa langganan banget nungguin terbitan dan kajian dari beliau. Nah, buku ini kayaknya sudut pandangnya menarik juga meski membahas soal keluarga.

    Reply
    • April 17, 2021 at 6:37 am
      Permalink

      Sya kenal beliau lewat kajian2 Islamic Worldview… Beliau salah satu Ustadz favorit seputar pendidikan dan keluarga.

      Reply
  • April 20, 2021 at 2:32 pm
    Permalink

    Setuju sih, majelis utama untuk anak-anak memang ada di keluarga.
    Sebagai calon orang tua maupun orang tua tentu harus mempersiapkan majelis keluarga untuk mendidik anak-anaknya.
    Setelah baca ulasan kamu, jadi tau kalau buku Dr Adian Husaini bagus banget buat referensi calon orang tua maupun orang tua.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *