Review #2 “Journey to The Greatest Ottoman”

Penulis : Marfuah Panji Astuti (Mba Uttiek)

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Halaman : 180

 

Turki, I am coming…. (Insya allah). Mohon bantuan Aamiin-nya Sobat Waode’s Room.

Negeri ini masuk dalam list priortitas untuk dikunjungi setelah 3 Tanah Suci. Bagaimana tidak, negeri ini pernah menjadi ibu kota Daulah Utsmani/Ottoman dengan kekuasaan membentang di 2/3 wilayah dunia meliputi Afrika, Eropa, hingga Nusantara. Tentu ada banyak cerita yang bisa didapat dari sana.

Terlebih setelah Aya Sofya menjadi masjid kembali pada tahun 2020. Waaahh…semakin menggebu keinginan untuk berada di tanah Ottoman. Aya Sofia mejadi saksi peristiwa bersejarah saat Muhammad Al Fatih bersujud setelah melaksanakan Nubuat Rasul bahwa tanah Konstantinopel suatu saat akan ditaklukkan oleh kaum muslimin.

“FYI, Nubuat adalah ucapan Rasul tentang kejadian di masa depan. Tapi ini bukan ramalan lho ya, ini adalah ilham dari Allah jadi tingkat keakuratannya 100%.”

Salah satu ikhtiar biar Allah mudahkan menapak di Tanah Turki adalah dengan membaca buku-buku tentang tanah tersebut. Biar tahu tempat mana saja yang harus dikunjungi, sejarah apa saja yang pernah terjadi, dan pelajaran apa yang bisa kita petik di sana.

Nah, salah satu buku recomended adalah Journey to The Greatest Ottoman karya Marfuah Panji Astuti. Sebagai seorang jurnalis, beliau berhasil memaparkan perjalanannya dengan sangat memukau. Setelah membaca buku ini, rasanya keinginan untuk berkunjung ke negeri tersebut semakin menggebu-gebu.

Jujur saja saya sangat terkesan saat Mba Uttiek (nama panggilan penulis) dan suami ‘tiba-tiba’ Allah perjalankan ke Turki. Kenapa tiba-tiba? Sebab beliau berdua tak ada rencana ke Tanah Ottoman. Beliau berencana ke Mesir. Namun batal secara tak terduga. Shock dong.. apalagi semuanya sudah terencana, tiket sudah terbeli. Bolak balik berurusan tetap tidak bisa. Ternyata eh ternyata Allah memberi kejutan manis dengan membelokkan arahnya ke Tanah Ottoman. Ini jadi mengingatkan saya pada perjalan tak disangka-sangka ala keluarga kami. Perjalanan ke tanah suci

Baca Juga Haramain, I am Coming.

“So, berencana saja dulu, ikhtiar, biarkan Allah mengeksekusi waktu terbaiknya.”

Di buku ini tulisan-tulisan Mba Uttiek membuat pemabaca serasa turut menjelajah. Dibuka dengan perkenalan Bangsa Ottoman sebagai bangsa pemenang yang juga turut membantu Aceh pada masa penjajahan.

“Semua raja-raja di Nusantara yang bergelar sultan memiliki hubungan dengan Daulah Utsmani. Mereka mengirim upeti ke Istanbul untuk mendapat izin menggunakan gelar tersebut.” (hal 37)

Baca part ini, auto membayangkan, di Tanah Buton daerah asal saya juga menggunakan gelar Sultan. Artinya, jauh sebelum komunikasi begitu mudah seperti sekarang, negeri Otttoman telah memberi pengaruh hingga ke tanah yang jauh. Salah satu pengaruhnya yaitu tersebarnya ajaran Islam. Islam memang menjadi ruh zaman keemasan Ottoman.

Sayangnya sejak tahun 1924, Turki tak lagi berhaluan Islam. Kaum Muda mengganti Turki  menjadi negeri sekuler. Meski demikian, kehidupan orang-orang tua utamanya tetap memegang teguh Syariat Islam.

Saya tersenyum membaca penuturan Mba Uttiek tentang nenek pemandu mereka. “Neneknya takjub melihat turis yang dipandunya tidak salat dan puasa di bulan Ramadhan. “Apakah mereka manusia?” tanya sang nenek.”

Melalui tarian aksaranya, Mba Uttiek membawa pembaca megunjungi Cappadocica yang menkajubkan hingga UNESCO mengganjarnya sebagai warisan budaya pada tahun 1985. Istanbul dengan Selat Bosphorusnya. Kompleks pemakaman Abu Ayyub Al Anshari, sang sahabat mulia dimana rumahnya menjadi pilihan Rasulullah kala memasuki Madinah.

Ah, disini kita belajaran tentang betapa tingginya keimanan beliau. Abu Ayyub lebih memilih dimakamkan jauh dari tanah asal demi impian suatu saat bisa mendengar gemerincing pedang pasukan terbaik dengan pemimpin terbaiknya yang berhasil membebaskan negeri Konstantinopel sebagaimana nubuat Rasulullah.

Dalam buku ini juga kita diajak mengunjungi Edirne yang indah. Tanah kelahiran Muhammad Al Fatih dan juga bekas ibukota Daulah Utsmani. Menyebut nama Al-Fatih dan penggambaran sosoknya menambah kekaguman pada sosok sang pembebas.

Edirne berbatasan langusng dengan Bulgaria dan hanya 7 km dari Yunani. Di kota ini pula tempat  bermukim sang arsitek jenius nan romantis, Mimar Sinan. Baca tentang karya beliau auto senyam-senyum sendiri di bagian bucin-nya beliau. Patah hati langsung buat mesjid. Ini baru bucin berkualitas. Jatuh cinta, patah hati, semua diabadikan dalam simbol-simbol bangunan yang beliau ciptakan.

Baca Juga Review#1 Journey to Aqsa 

Mengunjungi Istana Topkapi yang sangat sederhana untuk ukuran penguassa 2/3 bumi. Dimana di salah satu bagiannya terdapat benda-benda peninggalan Rasulullah Muhammad Shallalhu ailaihi wa sallam dan beberapa nabi lainnya. Keindahan lain yang juga tak kalah membuat nierdi buku ini adalah masjid-massjidnya. Aya Sofia, Blue Mosque, Masjid Selimiye, Masjid Sulaimaniye

Saya dibuat terkesima pada kemegahan masjid-Masjidnya  dan kecemerlangan ilmu pembuatnya

‘Kondis masjid ini dan wilayah Turki pada umumnya masuk dalam daerah Rawan Gempa. Untuk mengatasinya, konon, di bawah pondasi masjid diletakkan batu bulat semacam ‘roda’ yang membuatnya ikut bergoyang mengikuti goncangan gempa”

Masya Allah…. keren parah. Beratus tahun silam, ilmuwan muslim sudah berhasil membuat mahakarya demikian hebat. Ini jadi tantangan bagi muslim zaman now, dengan segala kecanggihan teknologi dan kemudahan akses harusnya bisa berkarya lebih.

“Turki adalah saksi jejak-jejak perpaduan kecemerlangan ilmu dan ketinggian akhlak. Kolaborasi yang membuat Utsamni pantas diamanhi kekuasaan seluas 2/3 bumi.”

Baca juga Keunikan Kota Thaif yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Berkunjung 

Ah, saya berkali-kali dibuat meleleh saat membaca. Salah satunya pada bagian Mba Uttiek kehilangan gelang  haji dan sang guide mendoakannya agar mendapat gelang baru. “Doa musyafir adalah doa yang diijabah. Di Cappadocia yang berslimut salju, saya mengaminkan doa Nalan sepenuh hati. Semoga Allah segera mengganti gelang haji itu dengan yang baru di musim haji berikutnya. Sungguh, yang kita butuhkan hanyalah doa. “

Juga pada bab Ma’asalamah Istnabul, saya manitikkan air mata dan mengaminkan sepenuh hati doa Mba Uttiek “Semoga Allah mengizinkan untuk terus melangkah, menjelajahi bumi-Nya, sujud di sebanyak mungkin masjid-Nya, dan mengumpulkan kepingan sejarah Islam yang berserak di sepanjang ruang yang terlewati, lalu menuliskan dan membagikan pada siapa saja yang membacanya.”

Tak hanya cerita, Mba Uttiek juga menghadiahkan gambar-gambar yang semakin menambah keinginan untuk menjelajahi tanah Ottoman. Di bagian akhir buku, ada pula informasi seputar harga tiket masuk, di salah satu bab berjudul ‘Ke mana? Habis Berapa? Bisa jadi panduan menyusun ittinerary. Dan juga Tip Traveling Turki. Buku kecil yang komplit dan bikin iri maskimal.

 

 

 

 

 

23 thoughts on “Review #2 “Journey to The Greatest Ottoman”

  • April 2, 2021 at 1:17 am
    Permalink

    Diriku langsung tertarik untuk membaca, mbak. Secara saya juga punya cita-cita bisa berkunjung ke negeri itu. Pengen tahu sejarah mereka yang suka bikin hati ini bergetar. Mbak, bisikin cara beli bukunya dong?

    Reply
    • April 3, 2021 at 8:49 pm
      Permalink

      Aamiin yaa Rabbal Alamin. Semoga Allah sampaikan kita ke sana ya Mbak. Tanah penuh sejarah dan pelajaran berharga. Kalau mau bukunya bisa ke FB Uttiek M Panji Astuti. Biasanya ada promo d sana. 🙂
      Atau kalau mau harga normal bisa pesan ke 0811606111

      Reply
  • April 2, 2021 at 4:11 am
    Permalink

    Aamiin semoga suatu harus benar-benar bisa ke Turki ya Mbak. Aku pun juga pengen banget. Mendengar nama Ottotam, Aya Sofia, itu selalu makin bikin saya gak sabar ingin ke sana. Semoga ada rezeki. BTW itu gambar dalam buku Journey to The Greatest Ottoman kayaknya lengkap banget ya Mbak. Terus foto-fotonya juga bagus. Kalau baca buku itu emang pasti rasanya diajak jalan-jalan langsung ke Turki.

    Reply
    • April 3, 2021 at 8:52 pm
      Permalink

      Aamiin yaa rabbal alamin. Semoga Allah mudahkan kita menapak di negeri penuh sejarah berharga tsb. Iy mba, dokumentasinya banyak jadi serasa ikut k sana. 🙂

      Reply
  • April 2, 2021 at 4:50 am
    Permalink

    Masya Allah… Turki yg dirindukan. Semoga Allah mudahkan menuju ke sana. Keren skali bukunya.

    Reply
    • April 3, 2021 at 8:52 pm
      Permalink

      Aamiin yaa rabbal alamin. Semoga bsia bersama keluarga tercinta.

      Reply
  • April 2, 2021 at 11:29 am
    Permalink

    Aaamiiin, semoga bisa terwujud ya jalan-jalan ke Turki.

    Wah memang sudah seharusnya ke Turki ya, maka jadilah buku “Journey to the Greatest Ottoman”. Coba kalau jadinya ke Mesir, kira-kira judul bukunya bakalan jadi apa ya?

    Turki ini memang banyak menyimpan tempat bersejarah di dunia, makanya tidak heran jika Turki menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan.

    Reply
    • April 3, 2021 at 8:55 pm
      Permalink

      Aamiin yaa rabbal alamin. Terima kasih doanya Mas. Penulis ini menggelari perjalanannya dengan Jelajah 3 Daulah, jadi emang niat beliau untuk menjelajahi bekas wilayah 3 Daulah Besar Islam.

      Turki sebagai pusat wilayah Utsmani di masanya memang menyimpan jejak sejarah yang banyak dan mengagumkan.

      Reply
  • April 3, 2021 at 2:44 am
    Permalink

    Buku yang asyik. Menjelajahi dunia mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagi Muslim. Pastinya serasa berada di sana nih. Yang paling terkenal bagiku Aya Sofia tentu saja. Semoga bisa berkunjung ke sana. aamiin

    Reply
    • April 3, 2021 at 8:58 pm
      Permalink

      Aamiin yaa Rabbal alamin. Semoga Allah mudahkan langkah kita mengunjungi sebanyak-banyak masjid-Nya. Mba Uttiek ini salah satu penulis favoritku. Buku-bukunya keren. Jadi sarana belajar sejarah tanpa membosankan.

      Reply
  • April 3, 2021 at 4:29 am
    Permalink

    Mendengar atau membaca Turki, saya sering langsung nyambung ke Muhammad Al Fatih, tokoh fenomenal di dalam sejarah Islam memang beliau ini. Sosok pemuda dengan prestasi gemilang. Saya pun ingin mengunjungi tanah bersejarah Turki, mudah-mudahan diberikan kesempatan oleh Allah. Aamiin

    Reply
    • April 3, 2021 at 9:01 pm
      Permalink

      Muhammad Al Fatih sosok pemuda yang pantass untuk jadi panutan. Cerita hidup beliau menginspirasi. Jadi pemimpin sejak masa kana-kanak dan punya visi besar menuntaskan nubuat Rasulullaah. Masya Allah.
      Aamiin yaa rabbal alamin. Semoga Allah perjalankan kita ke tanah Al fatih.

      Reply
  • April 3, 2021 at 6:06 pm
    Permalink

    Turki emang kerenss, mereka juga banyak menerima mahasiswa dari Indonesia
    Dan yang terpenting, peradaban Islam nya itu lho..
    Baca artikel ini jadi lebih mengenal Turki lagi, apalagi tempat wisatanya

    Reply
    • April 3, 2021 at 9:03 pm
      Permalink

      Iya. Turki sampai saat ini jadi salah satu negeri yanng banyak diincar oleh pemburu beasiswa.

      Reply
  • April 4, 2021 at 3:46 am
    Permalink

    Turkia memang banyak menyimpan sejarah dan keindahan. Pengarub Turki di Indonesia,salah satunya Aceh sangat kuat. Saya dan istri sering juga nonton film Turki di aalah satu TV swasta, dah modern sekali mreka ya hehe..
    Amin. Semoga tercapai bs ksana yaaaa

    Reply
    • April 4, 2021 at 11:08 am
      Permalink

      Benar banget Mba. Wisata sejarah dan wisata alamnya emang TOP… Belakangan ini Turki jadi salah satu negara yg berkembang pesat d Eropa.
      Aamiin yaa robbal alamin…. Terimakasih doanya.🤲🤲

      Reply
  • April 6, 2021 at 7:44 am
    Permalink

    Baca blognya mbak aja aku serasa sedang di Turki nih. Ingin juga sih saya ke Turki apalagi lihat pemandangan dan fasilitas kotanya juga menarik

    Reply
    • April 6, 2021 at 11:41 pm
      Permalink

      Apalagi kalau baca bukunya Mba. Auto mupeng deh pengen banget ke Turki. 🙂

      Reply
  • April 6, 2021 at 8:53 am
    Permalink

    Saya tertarik dengan arsitektur, jadi pas banget nih kalau ada kesempatan ke Turki. Trus pengen juga ke Uzbekhistan, ke kota Bukhara, kota kelahiran Imam Bukhori. Saamma, arsitektur Islamnya keren-keren…

    Reply
    • April 6, 2021 at 11:44 pm
      Permalink

      Waaahhh… kalau orang arsitektur ke turki passti terkagum-kagum. ratusan tahun silam arsitek disana rancangannya udah TOP BGT. Ada massjid yang gede banget tapi gak perlu pengeras suara. Suara udah tersebar merata karena desain dindingnya yang memantulkan suara. Ada juga masjid yang pembuangan jelaganya dijadiin tinta.

      semoga suatu saat Allah mampukan kita mengunjungi jejak-jejak peradaban ISlam.

      Reply
  • April 8, 2021 at 1:16 am
    Permalink

    Waaah..auto pengen kesana secepatnya. Baca penjelasan ttng Masjid-masjidnya berasa udah berada disana, menatap langsung, menyentuh setiap detailnya. Blog ini rekomended bgt utk para pembaca yg belum dikasih kesempatan kesana, tapi udah bsa mngenal kota ini dengan baik. Semangat nulis kak 😊

    Reply
    • April 10, 2021 at 3:06 am
      Permalink

      Benera banget. Baca buku ini auto mupeng. Ingin segera berada di tanah Ottoman. Terima kasih sudah berkunjung 🙂

      Reply
  • May 1, 2021 at 1:11 pm
    Permalink

    semogaaaa bisa kesana juga yaaaa,,, merinding aku baca dan mbayanginnya , masyaalloh

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *