Melihat Lebih Dekat Masjid Agung Kesultanan Buton

Masjid Agung Kesultanan Buton, Antara Mitos dan Realitas— Setelah kemarin menulis tentang (link), ternyata banyak yang belum tahu dan masih penasaran untuk membahas lebih lanjut tentang apa yang ada di dalam Benteng Keraton Buton.

Nah, kali ini saya ingin membahas tentang Masjid Agung Kesultanan Buton. Masjid yang menjadi icon dan pusat dari Keraton. Sejak kecil kami sudah sering mendengar cerita tentang masjid ini. Namun sebagian besar rasanya kurang masuk akal. Seiring perkembangan usia dan mulai bisa mencerna, ada hal-hal baru yang saya temukan. Apa itu? Langusng saja simak kelanjutannya.

  1. Lubang yang Bisa Memperdengarkan Azan dari Makkah

Salah satu cerita yang paling mahsyur tentang Masjid Agung Kesultanan Buton adalah adanya lubang di tempat imam yang konon bisa memperdengarkan suara azan dari kota Makkah. Sehingga dulu saat azan di Makkah berkumandang, orang-orang sakti bisa berada di Makkah dalam sekejap mata. Ada yang menggunakan sapu tangan, ada pula yang terbang menggunakan sajadah. Demikian cerita yang kerap terdengar.

Saya pribadi menganggap semua itu hanya mitos. Bisa jadi juga itu merupakan kalimat hiperbola yang salah diterjemahkan. Untuk hal ini saya menuliskannya dalam salah satu cerpen saya.

 

  1. Manisnya Persahabatan

Saat memasuki Masjid Agung Kesultanan Buton tampak lampu yang tergantung berbeda sendiri di tengah masjid. Lampu khas Jawa. Ternyata lampu tersebut merupakan ahdiah dari Kesultanan Yogyakarta.

Selain lampu ada pula jam dinidng yang merupakan hadiah dari Arab. Sayangnya jam tersebut raib dicuri orang. Kejadian inilah yang menyebabkan masjid hanya dibuka pada waktu salat 5 waktu dan salat Jumat. Selain waktu tersbut masjid akan dikunci.

  1. Serambi

Dua buah serambi tepat berada pada sisi kiri dan kanan masjid. Sejauh ini saya belum mendapatkan informasi pasti kegunaan serambi tersebut. Namun, saya membayangkan bahwa dulu serambi itulah yang menjadi saksi dakkwah dan juga pembicaraan-pembicaraan penting para Sultan.

  1. Tempat Pedang

Tepat setelah melewati 17 anak tangga terdapat tempat berupa rak yang dibagian ats terdapat papan berlubang-lubang. Ini diletakkan di sisi kiridan kanan. Dulunya tepat tersebut digunakan oleh Sultan buton dan para jamaah untuk meletakkan pedang.

Saya membayangkan betapa meriahnya masjid ini di masa lalu. Begitu kontras dengan situasi saat saya bertandang. Dimana hanya ada sekitar sepuluh jamaah laki-laki dan dua jammah perempuan yang ikut berjamaah menunaikan salat zuhur. Padahal masjid ini berada di kawasan padat penduduk.

  1. Gentong Air Sakti

Melangkah keluar dari ruang utama masjid, pengunjung akan mendaapati gentong air yang kemungkinan telah berusia ratusan tahun.

“ini bisa dibuka Pak?” Saya mengajukan tanya pada bapak-bapak yang sedang duduk di tangga masjid seraya menunjuk gentong yang tepat berada di tengah

“Oh bisa.” Seorang bapak sepuh berdiri dan membuka gentong tersebut.

“Airnya bisa diminum?” Saya sedikit melongok melihat air gentong yang tersisa sedikit.

Bapak lain menyela “Bisa. Itu air masih diisi terus. Kalu sudah habis dibelikan lagi galon. Ditambah terus airnya. Banyak orang datang sengaja untuk ambil itu air. Kalau orang yang percaya, mereka ambil di botol. Ada yang niat supaya lancar usahanya, berhasil pendidikannya, sembuh sakitnya, macam-macam perlunya.”

Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *