IQRA – Wa Ode Hasrana Mizana Ishak

Cerpen berjudul IQRA adalah salah satu karya saya yang masuk dalam buku antologi Berbenah. Alhamdulillah cerpen ini bisa anda temukan pada bagian pertama. Sebuah kesyukuran bisa menempati posisi pertama dalam bidang yang baru digeluti. Selamat membaca. Semoga bermanfaat. 

Matahari kembali memamerkan sinar kebanggan dari tahtanya di sisi timur langit. Menumphkannya dengan lembut pada seluruh persada. Tak terkecuali pada laut yang mengelilingi pulau ini. Lidah-lidah ombak masih setia menjilati bibir pantai seumpama seekor induk kucing membersihkan anak-anaknya. Pemandangan ini terlampau membuatku rindu. Sayangnya, pertemuan kami kali ini bukanlah dilandasi oleh rindu sebagaimana biasanya. Kedatanganku membawa rasa dalam kemasan yang aneh.

“Ayo, siap-siap, di depan sudah banyak orang.” Suara Ina[1] merayap turun dari serambi rumah panggung.

Kulangkahkan kaki meski berat menapaki tangga demi tangga. Ingin rasanya menolak ajakan beliau untuk pergi ke rumah tante Mirna. Entah sejak kapan, aku membenci keramaian dan pesta. Benci pada orang-orang yang seolah kehilangan filter rasa dalam bercakap. Begitu bernafsu menguliti segala sisi hidup orang lain.

Saat melewati ruang depan, tampak sosok Ama[2] tengah asyik menekuri salah satu majalah yang kemarin kubawa. Lelaki berumur tujuh puluh tahun itu begitu tergila-gila pada berbagai genre buku. Satu-satunya buah tangan yang kerap diminta oleh beliau ketika kami berkunjung adalah bahan bacaan.

Langkah kaki Ina yang datang bergegas membuatku segera menyambar kerudung. Persis ketika kami baru saja turun dari tangga rumah, Tante Mirna menyapa. “Eh, ada Isty. Kapan datang Nak?” Kuulurkan tangan untuk bersalaman sekaligus menyuguhkan senyum dan jawaban.

Menjelang zuhur, hampir sebagian pekerjaan telah diselesaikan. Aku bergabung duduk di kumpulan kerabat yang belum juga beranjak dari menguliti kehidupan orang lain. Kami duduk sembari menikmati hidangan yang disajikan oleh tuan rumah.

“Isty, itu Ayu sudah menikah. Kamu kapan?” Kuhentikan aktifitas menikmati kudapan demi menyimak pertanyaan yang entah harus dijawab apa. Hanya bisa menyajikan sepotong senyum atas tanya yang dilontarkan oleh tante Sani.

“Belum tau Tante, mohon doanya.” Aku mulai memasang siaga satu, berjaga jika pertanyaan ini semakin melebar.

Sayangnya, belum juga selesai kuatur rasa atas pertanyaan tadi. Salah satu kerabat lain menyambung. “Tuh Rina, yang waktu kecil suka main sama kamu anaknya sudah tiga. Juga Yanti, sekarang sedang hamil anak kedua. Isty umurnya sudah tiga puluhan ya?”

Deg. Pertanyaan itu seolah vonis mati yang membuatku bahkan susah menelan saliva. Aku menunduk dan berusaha sekuat tenaga menahan agar air mata tidak lolos. “Maaf tante, saya ke depan dulu.”

Baca juga  https://waode1453.com/dua-belas-jam-dari-sekarang/

Entah sudah seperti apa ekspresi yang tergambar diwajahku. Segera berlalu meninggalkan kerumunan menjadi pilihan terbaik. Inilah yang membuatku selalu menjauhi momen dimana keluarga berkumpul. Kepalang bosan dengan tanya yang itu-itu saja. Aku lebih menyukai hening. Bercanda dengan lajur-lajur aksara. Memasuki dunia mana saja yang kukehendaki dalam sebuah ruang bernama imajinasi.

Kupercepat langkah menuju rumah. Bale-bale[3] menjadi pilihan tepat untuk melepas sesak yang sejak tadi menghimpit. Air mata masih terus bungah demi sedikit menetralkan perasaan.

Inamu belum pulang, Nak?” Ama bertanya dari arah belakang. Diam dan gelengan  kepala menjadi jawaban.

Demi melihat gelagatku yang tidak seperti biasa, Ama memutuskan untuk ikut duduk. Kakek dari pihak ibu itu tak mengintervensi. Lima belas menit lamanya kami hanya saling diam. Tanpa kusadari Ina sudah bergabung bersama kami.

“Apa kamu menangis karena pertanyaan tante-tantemu?” Aku hanya menjawab dengan anggukan. Bersyukur Ina bisa menebak tanpa harus dijelaskan.

“Kamu mau dengar cerita?” Ama bertanya lembut. Anggukan kusajikan sebagai tanda persetujuan.

”Coba lihat air laut itu. Orang yang melihatnya secara kasat mata hanya akan melihat keindahannya, warna birunya, atau paling tidak memikirkan ikan-ikan di dalamnya. Tapi bagi orang beriman, ada tambahan tugas untuk mengiqra. Membaca, memikirkan, dan menafakurkan. Itu perintah yang jelas sekali dalam kitab suci kita. Semua yang ada di dunia ini punya takdirnya sendiri-sendiri yang harus kita baca.

Ama menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.

“Apa takdir laut? Salah satunya adalah sepanjang  kehidupan ini, di salah satu siklusnya, ia harus rela terpanggang oleh sinar matahari. Begitu terus, setiap hari. Adakah manusia yang sanggup dijemur berjam-jam sepanjang masa? Sampai saat ini Ama rasa tidak ada. Tapi laut menerimanya dengan penerimaan terbaik. Bukan hanya menerima, ia juga menyimpan kebaikan untuk semesta.”

Ina mengangsurkan segelas air pada sang suami.

“Setelah dipanaskan berhari-hari, partikel-partikelnya naik ke awan, berkumpul, turun menjadi hujan. Jadi air minum manusia, tumbuhan, dan hewan. Apakah kamu bisa mengambil pelajaran dari sini?” Ama menoleh padaku yang masih berusaha mencerna.

Sebelum jawaban kusodorkan, beliau kembali berucap “Pelajaran pentingnya, belajarlah dari laut atas penerimaan terbaik atas takdir. Bukan dengan mengeluh kenapa seumur hidupnya terus dipanaskan oleh sang surya. Ia menjalaninya dengan ikhlas. Dan ketika ia ikhlas di panggang oleh sinar matahari, saat itulah terjadi sebuah keajaiban dari siklus alam. Bayangkan jika air laut mencari tempat berteduh, pasti tidak akan ada partikel air yang menguap jadi awan, tidak akan ada hujan. Maka kehidupan kita akan kering, hewan-hewan akan mati, tumbuhan pun demikian. Dan pada akhirnya manusia juga akan punah.”

Otakku seolah baru saja dialiri partikel positif meski belum bisa terlibat dalam pembicaraan.

“Jadi, jika takdirmu sampai hari ini belum juga menikah, jalani ia dengan penerimaan terbaik dan tetaplah bermanfaat. Oh ya, bukankah kamu suka menulis buku?

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Aku selalu suka membacanya. Dan ah, itu. Pelajaran mahalnya ada disitu Nak.”

Aku mengeryit tak paham.

“Hey, jika kamu bisa menulis cerita seindah itu, tidak kah kamu berpikir jika Allah sebagai pembuat skenario terbaik juga pasti telah menuliskan versi terbaik untuk kisahmu? Cukup pahami ini, dan kamu akan tenang.”

Aku tergugu. Cairan bening kembali menderas dari sudut netra. Ya Rabbi, penjelasan itu sebenarnya dekat sekali. Aku hanya tidak pandai mengiqra. Terlalu fokus pada segala kekurangan. Merasa seolah manusia paling menderita di muka bumi hingga menghalangi pandangan dari berbagai nikmat. Di sini, di pulau kecil ini, sebuah pelajaran berharga baru saja tersaji. Penjelasan Ama sempurna sudah membenahi hatiku yang telah berkarat oleh pelbagai prasangka negatif atas takdir-Nya.

Hadapi, pelajari, dan terimalah setiap goresan takdir dengan penerimaan terbaik. Kata-kata itu tersimpan dengan baik dalam salah satu folder di otakku.

 

 

 

[1] Panggilan khas untuk perempuan tua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Biasanya digunakan untuk memanggil ibu atau nenek

[2] Panggilan khas untuk laki-laki tua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Biasanya digunakan untuk memanggil bapak atau kakek

[3] Tempat bersantai

2 thoughts on “IQRA – Wa Ode Hasrana Mizana Ishak

  • February 25, 2021 at 11:59 pm
    Permalink

    Saya suka sekali pesan pesan yg disampaikan dalam cerpen kakak ini, dalam dan seperti mengajak bersujud. Tak ada yang bisa manusia lakukan selain menerima, menjalani dan bersyukur.

    Reply
    • February 26, 2021 at 2:22 am
      Permalink

      Terimakasih apresiasinya 🙏🙏
      Menambah semangat untuk menulis. 😊😊

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *