Dukung Program Langit Biru, Mari Berkolaborasi Menjaga Tanah Surga

The Heaven Park

Langit biru tampak sejauh mata memandang, ditingkahi suara ombak dan laut biru. Hawa sejuk mengalir menyapa semua pengunjung. Seorang anak kecil dan kakeknya turut menjadi pengunjung hari itu.

“Wooow… indah sekali, Kek. Ini benar-benar seperti surga.” Sang anak bergumam tanpa henti. Terus berputar-putar memperhatikan sekeliling. Sesekali kupu-kupu mendekat dan menambah decak kagum. Sang kakek berusaha menampilkan senyum meski hatinya teriris. Bagaimana tidak, semua yang membuat cucunya takjub hanyalah artifisial semata.

Sebuah gedung dibangun secara luas lengkap dengan gambaran langit biru, awan putih yang berarak, suasana pantai, juga laut biru lengkap dengan semilir angin. Untuk menikmati semua itu harus dibarter dengan lembaran rupiah yang tak seditikit.

Sang Kakek memutar kembali memori masa silam dimana ia dengan mudah menjumpai semua itu. Dulu, semua ini bisa didapati dengan mudah. Sayang, ia termasuk yang lalai dan gagal mewariskan pada generasi selanjutnya.

Di luar gedung, antrian masih mengular. Semua orang mengenakan masker, bukan karena pandemi virus namun udara tak bisa lagi untuk dihirup. Langit berwarna kelabu bukan pertanda hujan melainkan polusi yang kian pekat. Langit biru menjadi pemandangan yang begitu diimpikan sebab semua itu tinggalah berupa sejarah. Orang-orang rela mengeluarkan uang demi bisa menikmati apa yang disajikan oleh The Heaven Park. Sesuatu yang bertahun silam menjadi hal biasa.

Cerita diatas saat ini hanyalah fiksi belaka. Namun tidak menutup kemungkinan akan menjadi realita jika tak segera dicegah.

Ok, back to reality….

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

 

Masih ingat lagu ini?

Rasanya, semua orang yang ditanya tentang alam Indonesia, baik itu penduduk lokal maupun turis asing akan sepakat dengan lirik lagu tersebut. Indonesia adalah habitat segala keindahan. Aneka flora dan fauna yang khas, bentang alam yang menakjubkan, juga kondisi alam yang prima menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga tak berlebihan jika Indonesia mendaku diri sebagai tanah surga.

Wakatobi, salah satu destinasi unggulan di negeri ini bahkan menggunakan tagline  “Surga Di Atas, Surga Di Bawah” dalam mempromosikan pariwisatanya. Tagline ini bukanlah klaim kosong tanpa bukti. Seorang aktivis konservasi, pembuat film, sekaligus penyelam legendaris asal Perancis, Jacques Cousteau menghadiahkan julukan  ‘Underwater Nirvana’ pada alam bawah laut Wakatobi bersebab keindahan dan kekayaannya.

Jauh sebelum Wakatobi menasbihkan diri sebagai tanah surga, Bali telah lebih dulu mengkalim dirinya sebagai “Surga Terakhir” saat dunia porak-poranda oleh Perang Dunia II. Hingga saat ini keindaahan Pulau Nirwana itu masih bisa kita saksikan. Pulau Wakatobi dan Bali hanyalah secuil keindahan yang ada di Indonesia. Masih banyak surga lain yang tidak kalah menarik dengan tampilan atraksi alam berupa langit biru, daratan hijau, dan laut biru dengan gradasi warna menakjubkan.

Related M U N A, 4 Alasan Mengapa Pulau Muna Patut Menjadi Destinasi Lanjutan Setelah Mengunjungi Wakatobi

Semua itu masih bisa terjaga hingga kini sebab masih berada pada kondisi lingkungan yang kondusif. Kondisi lingkungan yang kondusif memiliki beberapa indikator penting salah satunya yaitu bebas polusi. Sangat disayangkan, kini tanah surga itu tengah terkepung oleh polusi dari berbagai sisi. Salah satu yang sedang masif terjadi yaitu polusi udara. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau disingkat KLHK mengungkapkan bahwa sumber polusi udara terbesar adalah transportasi darat sebanyak 75%.

Permasalahan polusi, jika tak segera diantisipasi dan dicari jalan keluarnya maka tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan, keindahan itu akan rusak hingga lambat laun hanya bisa dikenang sebagai sejarah. Sebelum semua mimpi buruk itu terjadi, mari berkolaborasi dan satukan langkah membuat perubahan. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan mendukung Program Langit Biru.

Mengenal Lebih Jauh Program Langit Biru

Jujur saja, saya pribadi baru mendengar nama program ini ketika mendapat undangan media gathering dan webinar yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Radio (KBR) bekerjasama dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut yaitu ”Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru”.

Didorong oleh rasa penasaran, saya pun mencari tahu seputar Program Langit Biru. Dalam pikiran saya, program ini merupakan program baru yang dicanangkan oleh pemerintah. Ternyata eh ternyata, program ini sudah berusia ¼ abad. Waduh! Kok baru tau sekarang? Saya yang ketinggalan informasi atau memang sosialisasinya yang masih kurang? Pertanyaan itu pun terjawab ketika webinar berlangsung. Beberapa teman muda dari kalangan influencer menyatakan belum tahu menahu seputar Program Langit Biru. Sedang dari perwakilan KLHK selaku pemilik program mengakui masih kurangnya sosialisasi.

Nah, kalau kamu termasuk yang belum tau soal program ini, kuy lanjut baca. Dibawah ini saya akan berbagi informasi seputar program tersebut. Informasi ini tentu saja bukan sekedar bualan semata sebab bersumber dari para stakeholder pengisi webinar yang berlangsung pada tanggal 9-10 Maret 2021.

Empat pemateri utama yang hadir pada saat webinar adalah Bapak Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Bapak Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Service Reform (IESR), Ibu Ratna Kartikasari selaku perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Bapak Deny Djukardi W dari pihak PT. Pertamina. Selain beliau berempat hadir pula perwakilan dari beberapa instansi pemerintahan daerah Sulawesi dan Kalimantan. Juga para kawula muda dari kalangan influencer, penyiar, vlogger, penyanyi, dan pegiat media cetak. Webinar ini juga dihadiri oleh Bang Nugie, artis sekaligus pegiat lingkungan hidup. Boleh dikata, acara ini adalah paket komplit.

Sejak acara dibuka, peserta telah disuguhkan pemaparan yang cukup menohok dari moderator tentang polusi udara, 

“Pencemaran udara membawa dampak negatif untuk kehidupan masyarakat karena berpotensi meimbulkan berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan polusi udara. Sementara itu biaya yang dikeluarkan untuk perawatan medis terkait penanganan masalah emisi mencapai 60,8 triliun pada tahun 2020. Menurut data KLHK sumber polusi udara terbesar disebabkan dari transportasi darat sebanyak 75 %.”

Dari segi kesehatan saja, sudah sedemikian besar kerusakannya. Oleh karena itu masalah polusi menjadi perhatian baik secara global maupun nasional. Secara global, negara-negara di dunia telah menggaungkan komitmen mengurangi emisi karbon antara 20-40 % pada tahun 2050 melalui Paris Protocol Climate Change yang dilaksanakan tahun 2015. Sedangkan dalam skala nasional, Indonesia punya program sendiri yaitu Program Langit Biru yang dicanangkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak tahun 1996 dengan program prioritasnya yaitu penghapusan bensin bertimbal.

Sayang sekali kedua program di atas hingga kini belum berjalan secara signifikan di negeri tercinta. Bapak Tulus Abadi selaku perwakilan dari YLKI menganggap pemerintah masih kurang konsisten dengan program-program yang telah dicanangkan. Buktinya, Indonesia masih menjadi negara produsen polusi ke dua di dunia setelah China. Juga kandungan sulfur dalam BBM kita masih sangat tinggi yaitu 500 dpm sedangkan standar sulfur yang aman berada pada angka 50 dpm. Juga masih beredarnya premium RON88 yang berbahaya bagi lingkungan. Inilah sebabnya YLKI terus menerus mendorong pemerintah agar segera berbenah.

Lebih lanjut Bapak Tulus Abadi mengungkapkan, “Pengurangan emisi 20-40 % sangat urgent untuk kita kejar. Bagaimana tidak, sekarang saja emisi karbon sudah menimbulkan dampak yang sangat luar biasa dimana terjadinya perubahan iklim global, cuaca yang tidak menentu, bencana dan juga pandemi yang saat ini terjadi tidak bisa lepas dari pola hidup yang sangat ekspolitatif terhadap energi fosil. Salah satunya yaitu penggunaan BBM tidak ramah lingkungan bernama premium. Jauh sebelum pandemi ini, sudah ada the real pandemi yang jarang disadari yaitu kerusakan lingkungan”.

By the way, sebelum lanjut saya ingin bertanya, pembaca bisa gak mengikuti pembahasan ini? Atau malah merasa roaming dengan istilah-istilah baru yang mungkin terasa asing bin njelimet? Baiklah biar bisa nyambung, saya akan membahas beberapa istilah secara santai sesuai permintaan teman-teman muda yang diwakili oleh Mas Irfan Ghafur dalam webinar kemarin. Kata Mas Irfan, sosialisasi seperti ini  harusnya pakai bahasa yang mudah diterima dan tidak njelimet.

  • Apa sih polusi?

Polusi ini simpelnya adalah penambahan zat atau bahan berbahaya apapun ke lingkungan.

  • Sumbernya dari mana?

85% bersumber dari penggunaan energi. Salah satunya dalam sektor transportasi yaitu asap kendaraan bermotor. Asap yang keluar dari kendaraan ini disebut emisi atau gas buang.

  • Apa saja yang terkandung dalam gas buang?

Berhubung saya tidak bersahabat dengan asap motor, jadi saya kutip saja hasil studi Breath Easy Jakarta tahun 2017. Katanya zat-zat berbahaya yang dibuang ke udara oleh kendaraan bermotor tuh ada beberapa jenis seperti Partikel Mikro berukuran 2.5 mikron (57 persen), Partikel Mikro berukuran 10 mikorn (47 persen), sulfur atau SOx (72 persen), nitrogen oksida atau NOx (85 persen), dan karbon monoksida atau CO (84 persen).

Ukurannya yang sangat kecil, tanpa sadar masuk ke dalam tubuh kita dan lama kelamaan menjadi penyakit. Yang tertinggal di udara bersatu pada menjadi kabut asap. Sehingga kondisi lingkungan tampak kusam dan tidak sehat. Kondisi  ini pernah saya saksikan secara langsung saat mengunjungi ibukota Jakarta. Diperjalanan, saya merasa keheranan melihat langit yang berwarna kelabu namun sepertinya bukan pertanda hujan. Cek dan ricek ternyata langit Jakarta memang seringkali seperti itu. Langit berkabut bukan karena akan turun hujan, namun pertanda polusi sedang tinggi.

Source : Liputan6.com

Karena efek membahayakan dan pertambahan jumlah kendaraan yang semakin membludak dari tahun ke tahun, maka pada tahun 1992 secara global dilakukan upaya pengendalian emisi dengan penetapan EURO (European Emision Standart).

Nah, Program Langit Biru adalah langkah yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia guna mengurangi emisi agar sesuai dengan standar EURO. Sebagaimana diungkapkan oleh narasumber dari KLHK, Ibu Ratna Kartikasari bahwa program ini telah dicanangkan sejak 25 tahun silam melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 1996 dengan program prioritasnya yaitu menghapuskan bensin bertimbal. Selanjutnya disusul dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 yang mengatur emisi gas buang pada kendaraan bermotor (ranmor) harus menggunakan BBM standard Euro II. Yang terbaru diterbitkan pula Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2017 yang mengharuskan kendaraan bermotor menggunakan BBM standard Euro IV.

Ibu Ratna Kartikasari

Sangat disayangkan regulasi tersebut dalam pelaksanannya masih harus mengalami tarik ulur. Sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Fabby Tumiwa dari IESR bahwa 97 % BBM yang beredar masih belum memenuhi standar internasional. Hal ini terlihat dari masih beredarnya BBM jenis premium RON88. Padahal untuk BBM standar EURO IV minimal RON 91.

FYI, RON adalah kepanjangan dari Research Octane Number yang menunjukan jumlah oktan dalam bahan bakar. Semakin tinggi angka oktan, semakin baik pula proses pembakaran mesin dan emisi yang dihasilkan lebih sedikit sehingga lebih ramah lingkungan.

Artinya, ketika kita memakai bahan bakar premium RON88, proses pembakaran yang terjadi tidak maksimal sehingga menghasilkan emisi yang lebih banyak. Masih ingatkan apa saja efek negatif dari emisi?

Jadi, sebagai konsumen kita harus memilih bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi agar kendaraan terjaga, lingkungan terselamatkan. Apalagi sejak tahun 2018, kendaraan-kendaraan yang diimpor dari Eropa sudah menggunakan standar EURO IV. Jika kita nekat mengisinya dengan bahan bakar ber-oktan rendah maka bersiaplah untuk mengeluarkan biaya perawatan yang lebih banyak.

Sayangnya, masyarakat kita masih lebih mementingkan harga dari pada kualitas. Butuh usaha bersama untuk mendidik masyarakat agar bisa merubah mindset berpikir. Hal ini disinggung oleh salah satu pemateri webinar yaitu Bapak Fery Taula selaku Ketua PHRI Sulawesi Tengah, “Edukasi masyarakat untuk value oriented bukan price oriented. Pertamina harus buat riset untuk edukasi masyarakat bahwa BBM dengan oktan lebih tinggi, lebih ekonomis. Dilihat dari jarak tempuh dan keamanan kendaraan. Riset ini harus disupport lalu lakukan campaign tentang ‘Menang beli, Menang pakai.”

Namun kesadaran dari konsumen saja belumlah cukup. Butuh lebih banyak pihak yang harus turut andil dalam masalah ini. Bapak Fabby Tumiwa dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa pemerintah harus mencari instrumen kebijakan apa yang bisa membatasi pemakaian bahan bakar berkualitas rendah.

Bapak Sudar Yiki mengungkapkan beberapa variabel yang harus dikaji secara simultan guna menghilangkan BBM berkualitas rendah yaitu regulasi dari pemerintah pusat dan daerah juga konsumen awarness.

Yuk Jadi Konsumen Bijak

“Pernah gak saat mau beli kendaraan kita bertanya, ini cocoknya pakai bahan bakar apa ya?” Statement di atas diungkapkan oleh Bapak Maulana Isnarto selaku MC pada sesi webinar kedua. Sepertinya pertanyaan ini tidak pernah atau bahkan mungkin hanya satu dari sekian ribu orang yang melontarkan. Kalau saya pribadi, beli ya tinggal beli. Terus isi bahan bakar. Lihat premium harga 6000-an ikut antri, kalau sedang terburu-buru geser ke pertalite harga 7000-an, kalau sangat terburu-buru baru deh pakai pertamax yang harga 9000-an. Nah, kalau gak sempat singgah pertamina atau pertaminanya tutup, beli deh premium eceran harga 10.000-an perliter. Hehehe.

Eitsss…coba deh perhatikan rentang harganya. Ternyata masalahnya bukan kita bisa atau tidak tapi kita mau atau tidak? Buktinya kalau pertamina tutup atau semuanya habis, kita dengan santai beralih ke premium eceran.

Persis seperti yang dikatakan oleh Bang Nugie selaku artis dan pegiat lingkungan hidup, “Saat pandemi sekarang, orang banyak menggunakan e-money karena mencegah sentuhan. Kalau dulu kan jarang, ini sekarang jadi biasa.” Jadi sebenarnya ada kondisi dimana kita dipaksa, terpaksa, dan akhirnya biasa.

Nugie Nugroho

Masih kata Bang Nugie soal paksaan ini, “Pandemi ini memaksa kita untuk tinggal dirumah. Dulu kita mungkin merasa terpaksa tapi lihat hasilnya. Langit jadi biru dan muncul kupu-kupu di beberapa taman Kota Jakarta. Intinya kita harus mengubah habbit. Program Langit Biru sudah 25 tahun tapi masih stuck. Harusnya sudah dibuat regulasi agar pembelian kendaaraan pribadi pakai BBM ramah lingkungan. Ini memang agak susah, gak mudah, tapi bukan berarti gak mungkin.

Setelah baca ini, mungkin ada yang bilang “Orang kaya sih enak, punya duit. Kalau yang ekonomi bahwa gimana?

Ok, harap tenang. Uneg-uneg serupa juga kemarin sudah tersampaikan kok waktu webinar.

Disinilah pentingnya kita melakukan kolaborasi sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa narasumber. Bapak Deny Djukardi selaku perwakilan dari pihak pertamina mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan beberapa langkah untuk menjangkau masyarakat bawah. Seperti program khusus potongan harga pertalite di Pulau Jawa, Madura, dan Bali. Selanjutnya mulai tanggal 17 Februari silam menyusul pulau-pulau lainnya.

Program yang tengah berlangsung ini terus dievaluasi sebab program serupa seringkali salah sasaran. Perwakilan dari Bappeda Samarinda mengungkapkan kekhawatirannya  bahwa kadang yang seperti ini dalam penyalurannya sangat riskan jadi harus benar-benar diperhatikan. Ya, kita tidak bisa menutup mata bahwa masyarakat kita masih sering berprinsip, “kalau ada yang murah kenapa mesti bayar mahal?”

Pertimbangan mahal murah ini dilihat dari segi apa? Mungkin murah saat dibeli tapi efeknya jadi mahal. Lingkungan tempat tinggal jadi rusak. Efek jangka panjangnya, jangankan tongkat dan batu, manusia saja mungkin gak bisa tumbuh lagi karena polusi.

Dari segi kendaraan juga gizinya gak terpenuhi sehingga rentan sakit-sakitan. Biaya perbaikannya juga pasti lebih mahal. Apalagi kalau kita pakai kendaraan ekspor produksi diatas 2018 semua sudah menstandarkan pemakaian EURO4. Yang artinya sudah harus menggunakan bahan bakar pertamax biar kendaraannya bisa awet.

Sebagai tambahan informasi agar menjadi konsumen bijak, sebelum membeli kendaraan harus tahu dulu rasio kompresi dan bahan bakar yang cocok.

  • Rasio Kompresi di bawah 9:1 dibutuhkan bensin RON 90 (Pertalite)
  • Rasio Kompresi 9:1 – 10:1 dibutuhkan bensin RON 92 (Pertamax)
  • Rasio Kompresi 10:1 – 11:1 dibutuhkan bensin RON 95 (Pertamax Plus)
  • Rasio Kompresi 11:1 – 12:1 dibutuhkan RON 95 keatas (Pertamax Turbo)

Setelah melihat pemaparan diatas, kesimpulannya program ini hanya akan berjalan dengan kerjasama dan saling mendukung antara berbagai pihak. Polusi dan segala efek turunannya yang akan merusak lingkungan menjadi tanggung jawab bersama untuk diselesaikan agar kita tak kehilangan tanah surga.

Jadi, mari mulai dari sekarang dan mulai dari diri sendiri.

Sudah siap ikut andil dalam kolaborasi menjaga tanah surga?

Kalau kata Mas Anang “Aku sih Yes”

 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blogger KBR X YLKI

#LombaBlog #LombaBlogKBRxYLKI #ProgramLangitBiru #DukungProgramLangitBiru #MariBerkolaborasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25 thoughts on “Dukung Program Langit Biru, Mari Berkolaborasi Menjaga Tanah Surga

  • March 11, 2021 at 1:22 pm
    Permalink

    Tidak menyangka kalo Indonesia ternyata produsen polusi kedua tingkat dunia setelah China. Ini miris sekali. Padahal kekayaan hutan Indonesia sempat dijuluki paru2 dunia. Heemm..

    Reply
    • March 14, 2021 at 2:49 am
      Permalink

      Waaahh mantap banget acaranya kak, artikel yang sangat bermanfaat 👍👍

      Reply
    • March 15, 2021 at 3:38 am
      Permalink

      Kondisi hutan yg sudah kritis + perilaku masyarakat yg eksploitatif, jika tak segera d cegah maka bisa jadi Indonesia akan kehilangan gelar sebagai paru-paru dunia.

      Reply
  • March 11, 2021 at 5:53 pm
    Permalink

    Apresisasi untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sejak tahun 1996 giat dengan Program Langit Biru, bahkan masih bertahan hingga saat kini yang notabene sudah 25 tahun sejak dicanangkan. Meskipun dalam realisasinya dirasa masih belum signifikan, semoga layaknya negara di dunia yang terus berlomba-lomba mengurangi emisi karbon, pemerintah dan masyarakat Indonesia terus mendukung pengendalian pencemaran udara dan semakin sadar akan lingkungan.

    Reply
    • March 15, 2021 at 3:39 am
      Permalink

      Betul… Semua harus turun tangan dalam mengupayakan suksesnya program2 sprti ini.

      Reply
  • March 12, 2021 at 7:56 am
    Permalink

    Coba kita bisa terbiasa menggunaka sepeda ya kak sebagai alat transportasi mungkin langit di Indonesia bisa kembali biru. Sayangnya jarak yang jauh dan kita hidup dalam mobilitas tinggi membuat ingin lebih cepat mencapai tujuan

    Reply
    • March 15, 2021 at 3:41 am
      Permalink

      Pakai sepeda ini yg kemarin jadi salah satu saran dari Bang Nugie. Sayangnya jalur pesepeda masih kurang diprioritaskan. Semoga bisa mencontoh negara2 maju yg gemar bersepeda. Ada juga saran untuk memperbaiki pedestarian agar orang2 nyaman jalan kaki.

      Reply
  • March 12, 2021 at 10:26 am
    Permalink

    Sedih banget fiksinya. Barangkali akan jadi nyata seandainya generasi sekarang tidak merawat alam… 🙁
    Jakarta dengan langit kelabunya apakah tetap ramah?? Jakarta dengan lagit biru dan udara bersih itu sesuatu yang istimewa banget ya…
    Program ini keren sekali, dengan program ini barangkali langit biru dan udara bersih di ibu kota akan bisa dinikmati setiap hari…

    Reply
  • March 12, 2021 at 2:22 pm
    Permalink

    Selalu sedih kalau ke ibu kota dan tidak bisa menikmati langit biru karena polusi. 🙁

    Reply
    • March 13, 2021 at 12:16 pm
      Permalink

      Baru tau ada program sebagus ini dr KLHK..
      Hidup didesa dengan sajian langit biru dan senja yg mempesona membuat lalai bahwa kota2 besar kita semakin terancam.
      Semoga sosialisasi kegiatan ini cepat meluas

      Reply
      • March 15, 2021 at 3:33 am
        Permalink

        Sama… Program ini sdah 25 tahun, syangnya masih kurang diketahui. Smoga makin banyak yg share, makin bnyak yg tahu, dan programnya segera terealisasi 😊

        Reply
    • March 15, 2021 at 3:43 am
      Permalink

      Bisa jadi Mba. Kalau d pikir2 jdi sedih banget. Apalagi slama ini Indonesia terkenal banget kecantikan alamnya. Program langit biru butuh dukungan dari semua pihak agar biar bisa berjalan. Semoga kita termasuk yg ikut andil di dalamnya.

      Reply
  • March 13, 2021 at 3:08 am
    Permalink

    Sebenarnya Bumi ini udah mulai sakit sejak lama, mulai dari demam (pemanasan global), batuk (gunung meletus bae), idung meler (bencana banjir) hingga bersin-bersin (polusi di mana-mana).

    Kalau tidak ada yang mulai bertindak demi Bumi yang lebih sehat, maka Bumi beserta isinya akan menjadi korban. Bahkan anak cucu kita tidak lagi bisa menghirup udara yang bersih. Kasian kan…

    Wah senangnya dapat undangan media gathering.

    Kayaknya sosialisasinya masih kurang deh. Buktinya masih banyak yang belum tau program ini, padahal kenyataannya suda berjalan lebih dari 1/4 abad, ye kaaan??

    Semoga aja program Langit Biru ini terus berlanjut dan bisa dirasakan manfaatnya di seluruh wilayah Indonesia dan juga seluruh dunia, sehingga langit bisa kembali berwarna biru dan minim asap polusi, aaamiiin…

    Very nice post Kak

    Reply
    • March 15, 2021 at 3:25 am
      Permalink

      Yupsss… Itulah kenapa d judul saya menulis mari berkolaborasi. Soalnya kalau cuma satu pihak yg bertindak, gak akan jalan. Bersyukur YLKI masih getol menjalankan tugasnya melindungi konsumen hingga terus mendesak pemerintah untuk buat regulasi yg jelas seputar BBM. Juga mengedukasi masyarakat agar bijak jdi konsumen.

      Reply
  • March 13, 2021 at 3:18 am
    Permalink

    Tapi gambaran cerita di awal tulisan ini, suatu saat bisa kejadian lho mbak. Sekarang pun sudah mulai terjadi di lingkungan perkotaan. Anak-anak yang nggak kenal kebun dan sawah. Seneng banget kalau dari sekolahnya ada kegiatan outing class, mengunjungi sawah. Jadilah kini banyak banget wisata edukasi yang isinya kembali ke alam

    Reply
    • March 13, 2021 at 5:48 am
      Permalink

      Fiksi itu terbersit pas udah ikut webinar kemarin Mba. Auto mikir, berarti suatu saat kita akan kehilangan langit biru ya? Padahal langit biru itu jadi salah satu terapi kalau lagi sumpek.

      Reply
  • March 13, 2021 at 4:12 am
    Permalink

    Tanah Surga kita makin sedikit ya? Hihihi, sambil nyengir nulis ini. Dulu dari Sabang sampai Merauke. Sekarang udah banyak yang rusak, semakin bergeser ke timur. Dapat pemandangan langit biru di Jabodetabek itu langka banget sekarang loh, bisa jadi keajaiban dunia.

    Reply
    • March 13, 2021 at 5:47 am
      Permalink

      Benar banget Mba. Kalau kami yg d daerah mungkin masih santai2 aja krna langit biru masih jdi konsumsi sehari-hari. Tapi pas ikut webinar kemarin jadi sadar kalau krisis langit biru ini bisa meluas hingga ke daerah2.

      Reply
  • March 13, 2021 at 4:31 pm
    Permalink

    Dulu, langit biru susah dijumpai di kota besar yg sudah banyak polusi, sekarang sudah ke kota-kota kecil. Hutan kita pun makin berkurang, hiks! Semoga program langit biru benar2 memberi perubahan langit kembali biru 😀🙏

    Reply
  • March 14, 2021 at 2:49 am
    Permalink

    Waaahh mantap banget acaranya kak, artikel yang sangat bermanfaat 👍👍

    Reply
    • March 15, 2021 at 3:24 am
      Permalink

      Terimakasih atas apresiasi dan kunjungannya. 😊😊

      Reply
  • March 15, 2021 at 1:04 pm
    Permalink

    Lagunya Koes Plus… hehe.. keren. Lingkungan kita semakin terancam dengan berbagai banyak polusi seperti polusi udara karena kendaraan dan pabrik. Lingkungan bisa semakin rusak. Kita harus segera sadar untuk menjaga lingkungan salah satunya dengan program langit biru. Keren nih gerakannya

    Reply
  • March 18, 2021 at 9:21 am
    Permalink

    Bumi sudah tua dan sedih jika kita tidak bisa merawatnya. Program lingkungan ada baiknya merata dilakukan termasuk sanksi hukuman yang diberikan. Perlindungan hutan, reboisasi, polusi kendaraan dan juga sampah rumah tangga yang jumlahnya tidak sebanyak sampah industri tapi efek polusinya jauh lebih besar.

    Model kendaraan lama juga seharusnya dibatasi karena sistem pembakarannya yang sudah tidak optimal.

    Reply
  • March 21, 2021 at 1:53 am
    Permalink

    Siapa si yang gamau langitnya menjadi makin biru yakan? Tapi kesadaran itu emmang harus disebarkan bahwa pemakaian transportasi ini penyumbang besarnya polusi udara ya. Semoga pemerintah semakin konsisten dan masyarakat juga sadar ttg pemakaian BBM ramah lingkungan ini ya kak

    Reply
    • March 22, 2021 at 9:43 pm
      Permalink

      Betul Mba. LAngit biru jadi kebutuhan primer manusia. NAh, konsistensi pemerintah dan amsyarakat ini yang memang ahrus diperhatikan.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *