Dua Belas Jam Dari Sekarang

Assalamualaikum. Halo Sobat Waode. Kali ini saya ingin berbagi salah satu karya saya yang Alhamdulilllah menjadi pemenang pertama dalam event yang diselenggarakan oleh @Catatan Pena. Besar harapan saya, ada manfaat yang bisa diambil setelah membaca karya ini.  https://www.catatanpena.org/PengumumanRindu/

***

Lapa-lapa[1], kaparende[2], manu gholo[3] dan berbagai jenis hidangan lain berkolaborasi menyemarakkan kabasano dhoa salama[4]. Aromanya sanggup merobek konsentrasi siapa pun yang berada disekitar. Andai waktu bisa sedikit memberi jeda, indra pencernaanku masih ingin terus melahap. Mencicipi hingga tandas seperti saat Idulfitri atau Iduladha. Sayangnya tempo terlalu gegas. Rumah panggung kami berangsur hening saat modhi[5] bersiap di anak tangga terakhir sebagai pembuka jalan. Bergegas keluarga dan tetangga yang hadir mengambil tempat  sebelum memulai tapak menuju pantai.

Tak menunggu jeda, Ama, Ina[6] dan ketiga adikku segera bertahta di perut katinting[7] yang telah sedia. Aku masih sibuk melayani uluran tangan. Sekali lagi kulayarkan pandangan menguliti satu persatu dekorasi pulau kami. Netraku bertemu nyiur melambai yang seolah mengucap salam perpisahan. Juga tertumbuk pada hamparan kersik halus beradu ombak. Terdengar bak grup orkestra membawakan tembang selamat jalan. Satu persatu terhisap masuk dalam folder bernama keangan.

Waktu merangkak bersama laju katinting. Kini hanyalah riasan rona laut dan langit menghias cakrawala. Persekutuan yang tak pernah menghadirkan bosan pada penghuni jagat. Kuhirup lagi aroma laut berbaur asap dari mesin katinting. Aku tersenyum simpul melihat kertas berlaminating terikat erat pada tuas mesin. Kertas yang menjadi muasal segala kejadian hari ini.

Seminggu genap lembaran tersebut menghadirkan suhu menyelisihi biasanya. Bahagia degan segala keharfiahan maknanya tengah meliputi keluarga kami. Tergambar jelas oleh tarikan senyum pada tiap-tiap wajah. Di atas semuanya, Ama lah yang  nampak jelas bereuforia. Tak kunjung jemu terus dipandanginya kertas itu. Persis seorang kasmaran melihat surat cinta dari sang kekasih.

Perdana terjadi Ama bertindak konyol setelah mendapatkan sesuatu. Sehari pasca kedatangan surat itu, beliau bergegas ke kota dan menggandakannya hingga seratus eksampelar. Tak cukup sampai di situ, lembar asli dan selembar hasil fotokopi ditempatkan secara istimewa di balik kertas laminating. 99 sisanya menghias setiap sudut rumah papan kami.

Baca Juga https://waode1453.com/prophetic-leadership-sebagai-jawaban-atas-krisis-kepemimpinan-di-era-disruptif/

Berbeda dengan Ina yang kini duduk tepat di belakang sang suami. Beliau begitu sibuk mempersiapkan segala hal yang kuperlukan. Bahkan secara khusus menyelenggarakan kabasano dhoa salama sebagai puncak segala persiapan. Kini wanita itu tampak sibuk merapikan kantung kresek yang sejak tadi terus saja digoda angin. Kresek berwarna terang berisi aneka jenis makanan yang diracik dari bahan-bahan terbaik dan biasanya hanya disajikan pada hari raya. Sempat terbersit keinginan untuk melarang beliau membawanya sebab tak mungkin mengikutiku sampai tujuan. Namun tak sampai hati kulisankan penolakan. Biarlah nanti kubagikan pada teman-teman seperjalanan.

Kukirim sebaris senyum simpul pada dua insan paling berharga dalam hidupku. Terlampau banyak drama yang terjadi di antara keduanya. Kami anak-anaknya mengambil peran sebagai penonton setia pada tiap-tiap episode. Keduanya ibarat medan magnet. Berasal dari kutub berbeda namun tarik menarik teramat liat.

Ama yang rasional begitu kontras dengan Ina yang literal. Ama tak menaruh sedikit pun percaya pada segala jenis mitos. Sedang Ina demikian teguh dan khidmat menjaga apa-apa yang diwariskan oleh leluhur. Wanita yang begitu kumuliakan kedudukannya itu akan demikian berang jika ada protes atau pelanggaran atas segala jenis pamali. Malangnya, sang suami lah oknum utama pelaku protes dan pembangkangan.

Folder memori di otakku membuka kembali kenangan empat tahun silam. Di perut katinting ini keduanya berdebat sengit perihal salah satu ritual adat bagi seorang gadis. Masa itu, aku baru saja menyandang status baru sebagai mahasiswa. Status yang begitu diidamkan oleh Ama.

Eh Arna, kalau libur kuliah, pulang kampung dulu biar bisa ikut karia[8]?” Belum juga kusajikan respon, Ama lekas menyela.

“Bisa saja Wa[9] Arna ikut karia tapi salatnya tidak boleh ditinggalkan.” Jawaban usang yang selalu sukses menjadi pemantik debat.

47 thoughts on “Dua Belas Jam Dari Sekarang

  • March 2, 2021 at 10:52 pm
    Permalink

    What a wonderful story…👍👍👍👍👍

    Reply
    • March 3, 2021 at 2:02 pm
      Permalink

      Jazakallah Khairan Katsir brother 🤲🤲

      Reply
  • March 2, 2021 at 10:58 pm
    Permalink

    Bagus banget mbak, pilihan kata, kearifan lokal. Serta pesan yang ingin di disampaikan, diulas dengan bagus. Tidak mennggurui. Padat singkat tapi hidup dan tidak bertele tele.

    Reply
    • March 3, 2021 at 2:01 pm
      Permalink

      Jazakillah Khairan Katsir atas apresiasinya. 🤲🤲😊

      Reply
      • June 23, 2021 at 3:32 am
        Permalink

        Suka dengan ceritanya meskipun ada bagian bahasa daerah yang belum saya mengerti, diksinya keren dan gaya bertutur khas budaya lokal Indonesia ini harus dilestarikan

        Reply
  • March 2, 2021 at 11:17 pm
    Permalink

    MasyaaAllah. Suka. Tambah2 kosakata baru lagi. Terus berkarya dan menginspirasi.

    Reply
    • March 3, 2021 at 2:01 pm
      Permalink

      Jazakillah Khairan Katsir dek. Alhamdulillah jika ada manfaat yg bisa d dpat. Mari berkarya. 😊😊

      Reply
    • June 18, 2021 at 3:04 pm
      Permalink

      Mantab, buka tulisan awalnya cuma mau komentar aja, eh keterusan sampai khatam. Bahasanya menarik, pesannya kena. Diksinya itu lho kaya berima.

      Reply
    • March 4, 2021 at 5:48 am
      Permalink

      Terimakasih sdah berkunjung dek… Selalu semangat 💪😊

      Reply
  • March 4, 2021 at 12:53 pm
    Permalink

    Jadi ngiler deh ama parende dan manu kolo-kolo, mirip banget masakan di Buton ya, parende dan ayam ngkolo-kolo namanya kalau di Buton.

    Udah lama ga mudik, jadi lupa kayak apa sih katinting itu 😀

    Reply
    • March 4, 2021 at 1:41 pm
      Permalink

      Wiiihh senangnya dikunjungi Kak Rey. 🤩🤩. Iy kak, masakan Buton emang bikin kangen. Kak Rey asli Buton ya???

      Reply
  • March 5, 2021 at 1:58 am
    Permalink

    Kaka, masyallah bagus sekali cerita nya. Sangatt menginspirasi,.

    Reply
  • March 5, 2021 at 8:26 am
    Permalink

    Suka sma tulisannya …..:)

    Reply
  • March 5, 2021 at 9:21 am
    Permalink

    Masyallah,. Terbaik memang. Sangat menginspirasi kaka

    Reply
    • March 5, 2021 at 9:24 am
      Permalink

      Alhamdulillah, klau bisa bermanfaat. Makasih Asha sudah berkunjung 😍🙏

      Reply
  • March 5, 2021 at 11:18 am
    Permalink

    Masyaallah,,, keren sekali Kaka ani

    Reply
    • March 5, 2021 at 11:29 am
      Permalink

      Makasih kunjungannya Wa Anti… Makasih juga atas apresiasinya…🤩🤩

      Reply
  • March 6, 2021 at 10:52 am
    Permalink

    Ketika ada pengumuman pemenang lomba bertema “Rindu”, saya langsung membaca naskah juara I (cerpen saya masuk 100 besar pun tidak).

    Luar biasa.

    Kosa kata dalam bahasa Muna yang mendominasi halaman pertama membuat pembaca penasaran dan ingin segera menuntaskan.

    Isi cerpen menggambarkan dengan sangat tepat mengenai arti kata “rindu”. Ini dipertegas dalam 2 paragraf terakhir yang ditutup dengan kalimat pamungkas : “Seperti ini kah rindu itu?”

    Cerpen ini dengan cukup ringkas ikut memberikan pengetahuan mengenai adat Muna dan sebuah peninggalan sejarah kepada para pembacanya. Dua hal yang menurut saya tidak berhubungan langsung dengan isi cerita, tetapi memberi warna sehingga menjadi lebih menarik.

    Sekali lagi, selamat.

    Reply
    • March 6, 2021 at 12:05 pm
      Permalink

      Masya Allah… Terimakasih atas kunjungan dan apresiasinya Mas Agus. Jazakallah Khairan Katsir 🤲🤲

      Semoga ada kebaikan yg bisa d ambil dri tulisan saya dan Semoga Allah senantiasa mudahkan kita semua dalam menghasilkan karya2 berkualitas.

      Reply
  • April 18, 2021 at 3:57 am
    Permalink

    Do you mind if I quote a couple of your posts as long as I provide credit and sources back to your weblog? My website is in the very same niche as yours and my visitors would certainly benefit from a lot of the information you present here. Please let me know if this alright with you. Thanks!

    Reply
    • April 18, 2021 at 6:22 pm
      Permalink

      Thanks for your message. Please do that. I hope, it will be usefull.

      Reply
  • June 17, 2021 at 10:43 pm
    Permalink

    Wa’alaikumussalaam….

    Alhamdulillah ya jadi juara. Keren nih prestasinya Kak.

    Masih ada memang sebagian orang yang masih percaya dengan mitos, bahkan memegang erat aturan yang berlaku agar tidak melanggar mitos tersebut. Ceritanya keren. Pemilihan diksinya juga oke. Dari paragraf awal, sudah dibuat penasaran, jadi ingin lanjut membaca sampe selesai. Bahasanya puitis banget ya. Jujur aja, saya nggak jago bikin cerpen. Pantes sangat jadi juara. Sukses terus….

    Reply
  • June 18, 2021 at 12:10 am
    Permalink

    Selamat kak sudah jadi juara pertama, keren dan pastinya membuat tulisan seperti kak Waode ini gak gampang menurut saya.

    Btw, setelah saya baca tulisan kakak di atas memang layak menang, dan juga banyak diksi, majasnya juga oke banget seolah-olah benda mati itu punya panca indera dan bisa merasa layaknya seperti manusia (majas personifikasinya kuat sekali). Dan tentunya inilah yang paling enak dibaca, bahasanya juga mengalir keren kak.. Makasih kak, jadi tahu oh begini karya yang diharapkan oleh Juri.

    Reply
  • June 18, 2021 at 11:59 am
    Permalink

    Luar biasaaaa
    Pemilihan diksinya indah sekali
    Saya seolah ikut dalam setiap babak yang diceritakan
    Ama yang luar biasa, Ina yang penuh cinta dan penjaga tradisi
    Ah, kerinduan yang tergambarkan dengan baik

    Selamat yaaaa
    Karya yang memang layak jadi pemenang
    Ini keren

    Reply
    • June 19, 2021 at 4:25 am
      Permalink

      Wah juara.. selamat ya
      Jd tau ttg suku Muna, ama dan ina ini kalau Batak : amang dan inang, kalau Lampung : amak dan inak
      Ada korelasinya ya. Katiting pun perahu Lampung juga hehe

      Reply
      • June 19, 2021 at 9:28 pm
        Permalink

        terima kasih atas apresiassnya. eh iy…kok bisa mirip ya??

        Reply
  • June 18, 2021 at 4:24 pm
    Permalink

    Jujur, saya bacanya harus pelan-pelan, supaya bisa mencerna dengan baik cerpennya. Saya berusaha membayangkan seting lokasi, detail dalam cerpen, dan kisahnya.
    Terima kasih sudah berbagi tulisan cerpennya…
    Selamat yaaa, Kak Waode keren…

    Reply
  • June 19, 2021 at 4:26 am
    Permalink

    wah bukunya menarik sekali ini mba, dari judulnya aja sudah menggelitik orang untuk cari tahu lebih lanjut loh

    Reply
  • June 19, 2021 at 5:09 am
    Permalink

    Banggaaaaa aku satu grup BWA sama dirimu mba. Selamat ya mba. Turut berbahagia. Hadiahnya kece ini, fieldtrip ke tiga negara ASEAN selama seminggu. Semoga kondisi kita sekarang semakin kondusif dan tetap patuhi prokes selama berperjalanan.

    Cerita, kisah, novel, buku, apapun namanya yang sarat akan khasanah budaya bangsa sungguh lah menarik untuk diikuti. Pemilihan kata, diksi mba dalam cerpen ini rapiii sekali. Saya tahu ini gak mudah dan butuh waktu untuk menemukan inspirasi, but you did it. Sekali lagi congrats ya mba.

    Reply
    • June 19, 2021 at 8:40 pm
      Permalink

      terima kasih atas apresiaasinya Mba. Bangga juga bisa gabung di BWA dan ketemu blogger2 keren sprti Mba Mutia.
      Aamiin yaa rabbal alamin. Semoga kita segera bisa keluar dari pandemi ini.

      Reply
  • June 19, 2021 at 5:53 am
    Permalink

    Keren sekali, kak, cerpennya bisa menang tingkat nasional. Layak banget sih, pemilihan diksinya asyik banget, mengalir, dan lugas. Selamat!

    Reply
  • June 20, 2021 at 4:44 am
    Permalink

    Muatan lokal di cerpen ini sangat kental. Serasa berada di dunia baru dan melihat pemandangan unik sebuah keluarga nun jauh di sana.
    Jadi pengen menulis cerpen yang sangat Jepara, nih, untuk mengenalkan kebudayaan kami di sini.

    Reply
    • June 20, 2021 at 11:29 am
      Permalink

      iy Mba. berusaha untuk memperkenalkan daerah sendiri. Ayo dituliskan Mba. Kalau diikutkan lomba biasanya yang kental muatan lokalnya itu sering juara.

      Reply
  • June 20, 2021 at 5:26 am
    Permalink

    Alhamdulillah, keren sekali kak bisa jadi juara. Saya juga suka membuat cerita. Suka juga baca cerpen yang habis sekali duduk, tapi bekas yang dihasilkan tetap terasa.

    Reply
    • June 20, 2021 at 11:28 am
      Permalink

      terima kasih apresiasinya Mba. bener banget, berusah selaalu memberi pesan positif dalam setiap karya.

      Reply
  • June 21, 2021 at 1:33 pm
    Permalink

    Keren karya karyanya, masih butuh banyak belajar nih dari mb waode, terus berkarya ya mbaa semoga suatu hari nanti aku bisa seperti dirimu.

    Reply
    • June 21, 2021 at 7:07 pm
      Permalink

      Aamiin yaa rabbal alamin. Mari berproses… semoga yang terbaik untuk kita semua.

      Reply
  • June 22, 2021 at 7:43 am
    Permalink

    Wow keren banget ceritanya. Selamat sudah jadi juara. Banyak kosakata baru yang tak umum saya dengar, bisa jadi nambah kosakata.

    Reply
  • June 22, 2021 at 3:03 pm
    Permalink

    Masya Allah …. sebuah cerita dari adat Sultra.
    Karia itu kalau di daerah ibu saya – Gorontalo ada juga. Namanya be’at. Saat itu anak gadis dimandikan dengan ritual tertentu.
    Menarik kisah ini, tentang keteguhan seorang ayah dalam memegang agamanya meskipun harus ribut dengan istrinya. Juga bagaimana sang ayah figurnya melekat erat dalam kenangan putrinya.

    Reply
  • June 22, 2021 at 3:08 pm
    Permalink

    Selamat ya kak jadi pemenang.. hebat ih. Pantes banget jadi suhu, dilihat dari cara memilih diksi, merangkai kata, dan alur ceritanya. Saya masih bnyk harus belajar nih.

    Reply
  • June 23, 2021 at 3:15 am
    Permalink

    Selamat ya kak sudah jadi pemenang. Saya baca tulisannya juga bagus banget. Banyk hikmah yg bisa diambil

    Reply
  • June 23, 2021 at 3:33 am
    Permalink

    Suka dengan ceritanya meskipun ada bagian bahasa daerah yang belum saya mengerti, diksinya keren dan gaya bertutur khas budaya lokal Indonesia ini harus dilestarikan

    Reply
  • June 25, 2021 at 6:04 am
    Permalink

    Penyematan dan rangkaian kata-katanya indah sekali dan bagaimana cerpen ini bukan hanya menceritakan tentang perjuangan orang tua untuk pendidikan anak namun juga adat istiadat yang kadang mengukung dan bertolak belakang dengan ajaran agama. Terima kasih atas suguhan cerita indahnya. ^^

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *