Belajar Parenting dari Keluarga Teladan Sepanjang Zaman⁣

Belajar Parenting dari Keluarga Teladan Sepanjang Zaman— Selamat Hari Keluarga Nasional Sobat Waode.

FYI bagi yang belum tahu, 29 Juni diperingati sebagai hari keluarga nasional. Sebagaimana hari-hari lain yang diperingati maka itu berarti ada hal penting dibalik peringatan tersebut. Berbicara mengenai keluarga, maka kita berbicara tentang satuan unit terkecil yang membentuk masyarakat. Jika keluarga baik maka masyarakat akan menjadi baik pula. ⁣

Sayangnya, hingga saat ini orang-orang yang memasuki institusi keluarga masih sangat sedikit yang masuk dengan bekal ilmu mumpuni. Sebagian besar sekedar menceburkan diri karena terpaksa, sedang sebagian yang lain menjadikan keluarga sebagai ajang trial and error. Pun kiblat peradaban yang hari ini begitu bersinar dalam teknologi, belum mampu memiliki potret ideal tentang bagaimana merancang keluarga yang baik. ⁣

Mari simak penuturan Prof Caroll Quigley, seorang guru besar di Georgetown University, USA yang mengungkapkan bahwa mereka telah mampu meraih berbagai kesuksesan seperti mengontrol pertumbuhan penduduk, menghasilkan kekayaan dan mengurangi kemisikinan. Bahkan mungkin dalam waktu dekat akan bisa menunda kepikunan dan kematian. ⁣

Namun diballik semua itu, Prof Quigley , menyimpulkan bahwa masyarakat barat belum paham bagaimana menjadikan anak-anak mereka menjadi orang tua yang matang dan bertanggungjawab. “One things we clearly do not yet know, including the most of important of all, which is how to bring up children to form them into mature, responsible adults…”⁣

Tidaklah mengherankan jika daya tahan keluarga masa kini begitu rapuh sebab kiblat peradaban berada dalam kebingungan untuk memberikan contoh membangun keluarga yang baik. Terlebih bagi kita seorang muslim, kata baik tidak hanya berlaku untuk kehidupan dunia namun juga akhirat. ⁣

Baca Juga :

STOP! Jangan Ada Remaja Di Rumah Kita

Maka mari bercermin pada salah satu dari dua keluarga yang terus didoakan oleh jutaan manusia sejak ribuan tahun lalu hingga hari kiamat kelak. Inilah keluarga Ibrahim yang dilantik oleh Allah sebagai ayah bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana termaktub dalam surat Al Hajj ayat 78 “Millata abiikum Ibrahim”

Bagaimana anak yang didik dari jarak jauh bisa menjadi pemimpin umat manusia dan menjadi orang hebat? ⁣

Ketika seorang ayah dengan sangat “terpaksa” berada jauh dari anak maka Allah menjadi wali bagi orang-orang sholih sebagaimana tercantum dalam Qur’an surat Al-A’raf ayat 196 “sesungguhnya waliku adalah Allah yang menurunkan Al-kitab dan dialah yang mengurusi orang-orang sholih.”

Kata Ustadz Budi Ashari “kesholihan adalah asuransi terbaik bagi anak”. Hal ini juga tercermin dalam kisah di surat Al Kahfi ayat 82. Juga potret keluarga Umar bin Abdul Aziz.⁣

Bukan hanya jarak jauh bahkan dalam jarak dekatpun seorang ayah tak akan mungkin mengaawasi anaknya 24 jam. Haanyalah Allah sebaik-baik pengawas. Walaupun raga tak bersama tapi hati dan lisan tak pernah berhenti memohonkan yang terbaik.⁣

Berdoalah dengaan penuh permohonan dan berdoa secara cerdas. Lihatlah cara nabi Ibrahim berdoa dalam surat Ibrahim ayat 37. Dimulai dengan berkeluh -Allah suka hambanya yang mengeluh karena itu artinya dia lemah dan butuh pertolongan-, mendekatkan dengan mesjid agar anak bisa beribadah dan mengenyam pendidikan dari Masjid, dicintai oleh orang sekitar dan mendapat pengakuan sosial, kemudian berikan rezeki yang halal dan thoyyib. Pendidikan yang benar, pengakuan soisal, rezeki yang baik. ⁣

  • Didik istri menjadi sholihah. Kita bisa melihat pada bunda Hajar jawaban jenius ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim. Juga bagaimana seorang anak yang ditinggalkan lama oleh ayahnya namun ayahnya tidak cacat di mata anak. Sang ibu tentu hanya memberikan kesan-kesan positif tentang sang ayah pada anaknya.
  • Manfaatkan pertemuan dengan agenda-agenda ketaatan. Pertemuan yang cerdas dimana saat itu sang ayah dibantu oleh anaknya meninggikan Ka’bah. Syari’at ini bukan tak paham akan kebutuhan bermain anak namun main pun harus berimbas pada ketaatan. Salah satu cara memaksimalkan waktu bersama anak adalah jauhkan gadget karena itu lebih banyak merusak.⁣
  • Evaluasi ketaatan. Saat keduanya bertemu ketika Allah memerintahkan untuk menyembelih Ismail maka sang ayah tidak serta merta melakasnakannya melainkan terlebih dahulu, meminta pendapat sang anak.⁣ Disinilah terjadi dialog guna mengevaluasi kesholihan anak.

15 thoughts on “Belajar Parenting dari Keluarga Teladan Sepanjang Zaman⁣

  • June 29, 2021 at 1:47 am
    Permalink

    “Kesholihan adalah asuransi terbaik bagi anak”
    Nampol banget ini kalimatnya. Saat ini sepertinya banyak yang tak memperhatikan hal ini. Sibuk menyiapkan peninggalan berupa harta benda, lupa bahwa ada yang lebih penting dari itu

    Reply
    • June 30, 2021 at 5:45 am
      Permalink

      Terbayang bagaimana perasaan nabi kala itu mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putranya. Sebagai waliyullah tentu tidak ada keraguan untuk tidak melaksanakannya. Namun, beliau tetap meminta pendapat sang putra.

      Reply
      • July 1, 2021 at 11:11 pm
        Permalink

        Iya. di sini mengajarkan pentingnya musyawarah dan pemahaman yang baikd alam setiap apa yang akan dilakukan.

        Reply
  • July 1, 2021 at 12:06 am
    Permalink

    sebagai orang tua harus seantiasa berdoa. orang tua tidak akan mampu mengawasi anak 24 jam, maksimalkan ikhtiar dalam pengawasan, selanjutnya tawakkal. serahkan sama Allah. karena Allah lah sebaik-baik pengawas.

    Reply
    • July 6, 2021 at 12:14 am
      Permalink

      Benar sekali Pak. Apalagi di masa gaadget seperti saat ini. Susah sekali untuk mengontrol apa yang anak temui di dunia maya.

      Reply
  • July 1, 2021 at 2:15 am
    Permalink

    Omong-omong selain keluarga Nabi Ibrahim, masih ada keluarga percontohan di dalam Al Qur’an, yaitu keluarga Imran dan keluarga Lukman. Memang ada banyak sekali hikmah tentang kehidupan rumah tangga di dalam Al Qur’an kalau kita mau menyelaminya

    Reply
    • July 6, 2021 at 12:15 am
      Permalink

      Betul. Al-Quran banyak membeberkan contohkeluarga teladan. Sayangnyaa umat Islam banyak yang belum mengkajinya.

      Reply
  • July 1, 2021 at 3:13 am
    Permalink

    setuju sekali dengan kalimat; kesolihan adalah asuransi terbaik. tentu saat berada jauh dari anak kadang orang tua selalu diliputi rasa cemas dan gelisah tentang keadaan anaknya. Artikel ini sangat menjawab pertanyaan dari keresahan orang tua karena sebaik”nya pengawas adalah Allah swt

    Reply
    • July 1, 2021 at 11:10 pm
      Permalink

      benar mba. Apalagi di zaman gadget seperti ini. Walaupun anak berada dalam rumah tapi kita tidak tahu apa yang dilihat dan dilakukannya melalui gadget. Jadi sebai-baik penjagaan adalah penjagaan Allah yang bisa kita harapkan.

      Reply
  • July 1, 2021 at 12:31 pm
    Permalink

    Sebentar lagi Idul Adha, saya jadi ingat dulu waktu kecil pernah nonton film tentang Nabi Ibrahim yang hendak mengorbankan Ismail. Betapa ilmu parenting telah diajarkan sejak jaman nabi-nabi.

    Reply
  • July 1, 2021 at 2:09 pm
    Permalink

    Investasi termahal dalam hidup ini adalah seorang anak, anak harus di bekali pelajaran” yang baik agar menjadi anak yg soleh dan soleha.. begitu juga dengan belajar parenting untuk para orang tua

    Reply
  • July 2, 2021 at 2:56 am
    Permalink

    Masya Allah beratnya tugas suami. Bukan cuma mencukupkan nafkah lahir batin saja, tapi yg tak kalah penting adalah mendidik istri menjadi saliha.

    Reply
    • July 2, 2021 at 8:15 pm
      Permalink

      Istri saliha jadi aaset penting dalam pendidikan dan anak. Akan sangat memudahkan suami dalam mendiidk anak jika istrny shaliha.

      Reply
  • July 5, 2021 at 6:09 pm
    Permalink

    Jleb banget yang keshalihan adalah asuransi terbaik buat anak kita ya seperti kata Ust Budi Ashari, Setujuuu banget… btw yang mengadakan agenda-agenda ketaatan dan mengevaluasi ketaatan penting banget sebagai muhasabah keluarga ya

    Reply
    • July 6, 2021 at 12:09 am
      Permalink

      Iya Mba. seringkali ortu hanya mengevaluasi nilai-nilai sekolah tapi jarang ada evaluasi ketaatan.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *