3 Tahapan Mendidik Anak Agar Menjadi Pemuda Bukan Remaja

3 Tahapan Mendidik Anak Agar Menjadi Pemuda Bukan Remaja – Pada post sebelumnya STOP! Jangan Ada Remaja Di Rumah Kita saya sudah membahsa panjang lebar tentang mengapa remaja gak boleh ada di rumah kita.

Dengan adanya istilah remaja, generasi menjadi konsumtif dan lama berada dalam masa ketidakjelasan. Dewasa bukan, anak-anak juga bukan. Masa remaja dianggap sebagai masa abu-abu tempat untuk galau, mencari jati diri, dan masa hura-hura. Di masa ini juga seseorang belum dituntut untuk merumuskan tujuan hidupnya secara jelas.

Bisa dibayangkan dalam rentang waktu kurang lebih 15 tahun seseorang dibiarkan dalam masa ketidakjelasan? Alhasil ketika melewati masa yang disebut remaja, alih-alih menemukan jati diri, yang ada justru menyesal akan banyaknya waktu yang terbuang.

Hal inilah yang membuat generasi sekarang sulit untuk tampil dan menoreh sejarah sejak dini.

Nah, melalui artikel ini saya ingin membagikan formula langit untuk mendidik generasi agar bisa matang sedini mungkin tanpa perlu terjebak masa abu-abu.

Mari kembali pada panduan pendidikan warisan langit a.k.a AGAMA. Panduan yang melahirkan generasi brilian  siap tampil dan berkarya  pada usia dini.

Eitsss… gak usah alergi dulu dengar kata AGAMA. Gini aja deh coba ajukan pertanyaan? Setuju tidak kalau genearsi masa silam matangnya lebih cepat dari yang sekarang?

Pasti setuju kan? Kalau setuju, coba deh kita intip formulanya. Dijamin masuk akal dan telah terbukti menghasilkan generasi gemilang.

  • Tarbiyah atau pengasuhan yang harus dimaksimalkan pada usia 0-6 tahun. Pada masa ini saatnya menumbuhkan semangat dan kecintaan pada kebaikan. Tanam dulu fitrahnya dengan imajinasi hebat tentang kebaikan.

Misalnya bahwa puasa itu menyenangkan, shalat itu menyenangkan. Target pada masa ini bukan diperintah tapi dicontohkan. Jangan dulu di suruh-suruh. Ingin anak kelak rajin membaca? Berikan ia pemandangan ayah ibu yang rajin baca. Ingin anak kelak mencintai majelis ilmu? Ciptakanlah keluarga yang rajin mengunjungi majelis ilmu. Ingin anak kelak menghargai orang lain, disiplin, dan bertanggungjawab? Contohkan semua itu pada usia ini.

  • Ta’dib yaitu anak dibuat untuk beradab. Memahami segala sesutau pada semesta dan menempatkan sesuai posisinya.

Ingat hadsit 7 tahun sudah disuruh shalat? Tapi bukan dipaksa shalat ya? Shalat atas kesadaran sendiri.

Jangan sampai di depan orang tuanya rajin, saat orang tuanya tidak ada, ogah lah dia shalat. Kenapa? cek deh jangan-jangan salah masa tarbiyahnya. Anak hanya tahu gerakan, waktu, dan bacaannya tapi tidak PAHAM akan kewajiban shalat dan tidak merasakan itu sebagai suatu kebutuhan.

Pada usia ini anak harus dipahamkan bahwa ibadah adalah kebutuhan primer yang penting bagi kesehatan jiwa sehingga pada usia 10 tahun anak tak perlu lagi dipukul perkara shalat. Ia telah paham dan siap menjalankan kewajiban syariat karena kesadaran bukan paksaan.

  • Ta’lim : 10 – 15 tahun. Berikan dia ilmu yang dibutuhkan sehingga usia 15 ke atas dia sudah matang dalam fondasi dan sudah bisa dilepas. Apakah akan mengembangkan bisnisnya atau memperdalam keilmuannya. Jika dia tertarik pada bisnis maka kirim ke maestro bisnis. Jika dia tertarik dalam ilmu maka kirim pada ahli ilmu terpercaya. Yang penting pola pengasuhan telah selsesai. Dia paham adab ilmu, adab belajar, adab ibadah, adab pada ahli ilmu.

Yang terpenting ia paham bahwa TUJUAN MENCARI ILMU ADALAH UNTUK MENEMUKAN KEBENARAN BUKAN UNTUK DAPAT IJAZAH, GELAR, DAN PEKERJAAN.

Hati-hati dengan kesalahan niat dalam mencari ilmu.

Kita sering salah paham dengan anak usia 10 tahun atau kelas 4 SD. Jika 3 tahap diats tidak dilakukan maka pasti kelas 4 SD itu masih anak kecil yang tidak bisa ngapa-ngapain. Padahal nih menrut penelitian jika benar pola didiknya harusnya anak 10 tahun sudah bisa diberdayakan.

Ini kriteria anak 10 tahun yang perlu diketahui :

  • Butuh pengakuan sosial dan kompeten. Mereka merasa sudah dewasa dan tidak mau lagi terus menerus dieprintah. Robert Enstein mengatakan bahwa pada usia ini mereka jauh lebih kompeten dari apa yang kita duga. Mulailah memberikan ruang sosial dengan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan terlibat dalam organisasi sosial. Saat ini mereka juga bisa diarahkan untuk magang pada pengusaha sholih.

Rasulullah mulai berdagang usia 11-12 tahun. Ketika menikah Rasulullah sudah melakukan 80 kali eskpedisi dagang.

Perhatikan kecenderungannya untuk melihat bakat sang anak lalu berikan dukungan untuk menumbuhkan bakatnya.

Berikan Murabbi untuka akidahnya agar ia paham makna ibadah, islamic worldview, cara pandang yang benar tentang hakikat kehidupan) dan berikan masetro untuk bakatnya (jadikan ia partner bisnis dan partner dalam kegiatan sosial)

  • Suka tantangan. Mereka butuh challenge lebih banyak. Pupuk fitrahnya dengan memberikan program-program positif dan produktif. Challenge yang bisa diberikan diantaranya magang, membuat rekening pribadi dan mengelolanya, eksplor alam, terlibat dalam organisasi, ajarkan untuk berinvestasi.

Hindari menjadi orang tua yang apa-apa selalu di take over. Biasanya diiringi kalimat “udah kamu gak bisa apa-apa, sini ayah atau ibu saja”. Jadilah. ayah yang tega dan ibu pembasuh luka. Ayah memberikan tantangan, ibu jadi pemberi semangat.

  • Suka organize. Mulai memiliki keinginan untuk mengatur dirinya sendiri. Ajaklah diskusi agar anak memiliki self business dan jadikan dia partner. Amati cara dia mengelola. Ajaklah traveling dan berikan dia kepercayaan untuk mengatur agenda sekaligus estimasi budget.

Jika ia melakukan kekeliruan, benarkan tanpa memarahi sebab tahap ini masih amsa pembelajaran bukan eksekusi.

  • Suka pada lawan jenis. Saat inilah kesempatan ayah untuk lebih dekat. Bukan untuk diolok-olok atau dilarang secara frontal. Berikan pemahaman seputar konsep fitrah, manajemen rasa suka pada lawan jenis, juga tentang tanggungjawab atas rasa tersebut.
  • Suka kebenaran. Pada masa ini mereka nampak idealis. Ingin menjadi pembela kemanusiaan. Berikan ilmu yang benar tentang hal ini. Jangan sampai menjadi pembela kemanusian salah sasaran seperti memebela perilaku LG*T dan paham-paham liberal.

Dari kriteria tersebut, nampak kan kalau selama ini kita keliru memberi penilaian? So, mari mulai dari keluarga kita untuk menghilangkan istilah remaja. Kita kembali pada panduan Al-Quran dan sunnah. Pra baligh dan baligh. Anak-anak dan pemuda (dewasa).

  • Pra baligh = Masa penyiapan sekitar usia 0-15 tahun
  • Baligh = Usia yang seharusnya sudah matang dan siap berkarya

Kuncinya ada dimana? Pengasuhan dan sistem pendidikan. Pengasuhan merupakan tanggungjawab orang tua sedangkan pendidikan tanggung jawab ahli ilmu bukan sekolah. Jadi, untuk pendidikan arahkan anak pada ahli ilmu bukan sekedar sekolah. Lebih spesifik lebih baik.

Baca lebih jelas di buku Review #4 Kiat Menjadi Guru Keluarga

Jika merujuk dari kriteria di atas seharusnya usia 15 tahun dia sudah bisa memgelola bisnis sendiri atau memetakan ilmu apa yang ingin ditekuni. Berbeda dengan sistem pendidikan saat ini dimana usia 15 biasanya anak masuk SMA dengan masih banyak bidang yang harus dipelajari.

Membahas masa SMA, saya cukup tergelitik dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz Hary Santosa penggagas Fitrah Based Education. Beliau merujuk buku Prof. Dr. Malik Badri seorang psikolog muslim berjudul ‘Dilema Psikolg Muslim’ menyatakan bahwa penjenjangan TK, SD, SMP, SMA, terjadi karena pengamatan Barat terhadap masyarakat mereka.

Hal ini diperjelas oleh Alwi Alattas dalam buku ‘Remaja Gaul Nggak Mesti Ngawur’. Kesimpulan buku ini “masa SMA adalah masa yang tidak perlu ada dalam sejarah.”  Sebab usut punya usut semua ini hanyalah tentang industri.

Ia juga sih, contonhnya di masa ibu saya, jika ingin menjadi guru, lulus SMP langsung masuk SPG. Ingin menjadi perawat masuk SPK. Ingin menekuni bidang teknik maka lanjut ke SMK.

Eitss…. Ini bukan berarti saya tidak menghargai jasa guru-guru saya di SMA ya? Ini adalah notulensi saya pada materi yang disampaikan oleh Ustadz Harry Santosa, S.Si dalam Kajian Spesial Ramadhan Masjid Al Irsyad Depok dengan tema Antarkan Anakmu Jadi Pemuda Bukan Remaja. 

Menurut saya isi kajiannya patut untuk menjadi bahan renungan demi perbaikan generasi kedepan. Nah, sobat Waode bagaimana tanggapannya? Di tunggu di tanggapan santunnya di kolom komentar. 🙂

 

 

 

 

33 thoughts on “3 Tahapan Mendidik Anak Agar Menjadi Pemuda Bukan Remaja

  • April 26, 2021 at 2:16 pm
    Permalink

    Kalau disebut remaja biasanya berkaitan dengan umur, sementara dewasa berkaitan dengan sikap dan tanggubgjawab. Jadi masa remaja tetap sih harus ada tapi harus jadi remaja yang bertanggungjawab aka dewasa, begitulah kira kira pendapat saya.😃😃 Nice artikel 👍👍

    Reply
  • April 26, 2021 at 4:40 pm
    Permalink

    Tapi, bener juga ya. Jadi inget kisah Zaid Bin Tsabit yang ikut bersusah payah bersama Rasulullah salallahualaihi wassalam sejak usianya bahkan bisa dibilang belum dewasa. Tapi, engga ada proses remaja yang dilaluinya gitu. Semua keputusan dan jalan pikirannya udah jelas tanpa menghadapi kebingungan akan jati dirinya ya

    Reply
  • April 26, 2021 at 8:17 pm
    Permalink

    Kian santan, syeikh Ali Jaber dan figur lainnya. Merupakn contoh didikan yang mbak sebutin ini, bagaimana masa remajanya mereka diasuh untuk pengethuan

    Reply
    • April 28, 2021 at 4:53 am
      Permalink

      Aku sangat terkesan dg tulisan dan pesan didalamnya kak maju terus mengedukasi, insyaalloh qku pengen konsep ini ada untuk anaku, mohon doa nya

      Reply
      • April 28, 2021 at 10:26 pm
        Permalink

        Terima kasih atas apresiasnya. Semoga bermanfaat. Saling mendoakan bu semoga keluarga kita mampu mengembalikan peradaban pada jalan yangs esuai syariat.

        Reply
  • April 26, 2021 at 9:54 pm
    Permalink

    Bener dan pastinya kita ngga bisa bandingin anak.kita dg anak org lain yg umur 5 th sdh sering sholatnya. Semoga kita bisa menjadi org tua yg mampu menjalankan 3 jenis pendidikan ini utk anak2

    Reply
  • April 26, 2021 at 11:54 pm
    Permalink

    Saya melihat perspektif yang baru soal remaja dan pemuda di artikel itu. Remaja biasanya diidentikkan dengan pencarian diri dan identitas, sehingga bisa dikatakan labil. Sementara pemuda selalu dikaitkan dengan harapan keluarga dan bangsa, karena sudah lebih matang. Kuncinya memang akhlak yang mulia dan keteladanan

    Reply
  • April 27, 2021 at 1:53 am
    Permalink

    Nice artikel nih. Bagusnya memang jadi orang tua harus belajar buat parenting. Jadi anak-anak nggak tumbuh dewasa sendiri dan mencari informasi sendiri. Usia 15 tahun sekarang banyak yang sudah pandai mengelola bakat dan potensinya, semua berkat dukungan ortu juga. Thanks buat sharingnya :))

    Reply
    • April 27, 2021 at 8:43 pm
      Permalink

      terima kasih apresiasinya Mba. Yupsss untuk buat robot berkualitass saja perlu bertahun-tahun nyari ilmu nya, harusnya untuk menghassilkan manusia berkualitas harus lebih serius lagi mempersiapkannya karena masnuai adalah pemain utama peradaban.

      Reply
  • April 27, 2021 at 9:20 am
    Permalink

    Menarik nih mba. Rasanya ketika saya remaja, berada di zona diantara yang ga jelas. Anak2 bukan, dewasa bukan. Akhirnya jadi beneran uring2an haha. Sepertinya lebih positif dikondisikan jadi orang dewasa saja

    Reply
    • April 27, 2021 at 8:41 pm
      Permalink

      Terima kasih apresiasinya. Bagi saya pribadi, ini jadi cara untuk mengingatkan yang lain sebelum terlambat. Saya pribadi menyesal banget mba dengan pola pikir santai ala remaja yang merasa tidak memiliki beban tanggungjawab dan belum diarahkan untuk berpikir serius. Walhasil banyak waktu yang terbuang percuma.

      Reply
  • April 27, 2021 at 3:13 pm
    Permalink

    Iya sih ya, dalam Islam tak ada tahap remaja. Lepas anak-anak, masuk baligh, tanggung jawabnya dalam segala hukum sudah sama dengan orang dewasa. Ada banyak yang lepas dalam cara kebanyakan orang saat ini dalam mengasuh anak …. termasuk saya. 🙁
    Terima kasih sudah mengingatkan dalam tulisan ini.

    Reply
    • April 27, 2021 at 8:37 pm
      Permalink

      Terima kasih kembali Bu. Semoga tulisan ini jadi pengigat bagi semua terutama bagi kita yang muslim. Generasi terdahulu kita bisa sangat matang dalam usia dini dan mengukir tinta sejarah. Ini jadi PR banget buat generasi zaman now.

      Reply
  • April 27, 2021 at 10:34 pm
    Permalink

    baca artikel mba jadi banyak ilmu dan pengetahuan tentang pola asuh anak dan kebutuhan anak. jadi bekal saya kelak kalau sudah punya anak, untuk menerapkan ini. dan dengan mengenal fase-fase perkembangan anak bisa menjadi salahs atu cara menghindari kesalahan dalam pola asuh

    Reply
  • April 28, 2021 at 2:47 am
    Permalink

    Benar saya setuju, intinya ada pola pengasuhan dan sistem pendidikan. Peran orang tua berpengaruh sampai anak menginjak dewasa mengarahkan sampai ia memiliki tanggung jawab penuh akan tugasnya, makasi sharingnya ya kak

    Reply
  • April 28, 2021 at 3:29 am
    Permalink

    Pola pendidikan atau pengasuhan pada anak, ternyata harus dilakukan secara bertahap ya. Nggak langsung dikasih ilmu, tapi dikenalkan dulu untuk menumbuhkan semangat dan mencintai kebaikan. Barulah tahap berikutnya dikenalkan adab. Terakhir baru dijejali bekal ilmu. Keren ya tahapannya.

    Terima kasih atas ilmu kerennya ini. Yang terpenting sekarang adalah praktik pada kehidupan sehari-hari. Kalau teori doang sih gampang ya, yang sulit kan praktiknya.

    Reply
  • April 28, 2021 at 4:21 am
    Permalink

    Mendidik anak ada tahapannya..dan Islam sudah mengatur dasarnya , tinggal diterapkan sesuai karakter anak. Karena masing-masing anak berbeda tipikalnya.
    Tapi kalau saya pribadi masa SMA tetap perlu khususnya untuk yang akan melanjutkan pendidikan tinggi. Karena kalau mau jadi dokter misalnya, perlu pendalaman materi Matematika dan IPA ga bisa ujug-ujug dari SMP langsung ke FK
    Jadi harus disesuaikan dengan jamannya
    Kecuali kalau mau memang langsung bekerja selepas sekolah menengah ya silakan masuk ke SMK sesuai potensi dan minatnya

    Reply
    • April 28, 2021 at 10:35 pm
      Permalink

      Iya Mba. Terima aksih atas tanggapannya. Ini tergantung perspektif masing-masing orang. Ya, namanya pendapat maka pasti tetap ada pro dan kontra. Sistem saat ini memnag masih tetap ‘memaksa’ untuk masuk jenjang SMA. Tapi ini juga tidak saklek sebagai satu-satunya cara menrutku. Kalau seperti tahapan diatas misal usia 10 tahun ortu sudah bisa melihat ketertarikannya apda dunia kedokteran, maka anak mungkin bisa ditempatkan apd alingkungan itu. steleah benar-benar mantap di usia 15 tahun sudah bisa langsung fokus mencari ilmunya. Tapi kembali lagi, ini cuma pendapat pribadi sih. 🙂

      Reply
  • April 28, 2021 at 11:40 am
    Permalink

    Masya Allah kak, aku belum berkeluarga jadi baca postingan ini nambah wawasan banget!

    Memang harus diajarkan untuk mencintai membaca, mandiri sejak dini ya. Dan sebagai orangtua tidak hanya menyuruh tapi memberi contoh

    Reply
    • April 28, 2021 at 10:27 pm
      Permalink

      Sama sih. Aku juga belum berkeluarga. Tulisan-tulisan seperti ini semoga bisa menjadi referensi kelak dlam mendidik anak.

      Reply
  • April 28, 2021 at 1:47 pm
    Permalink

    Wah keren ilmunya. Iya bener mmg remaja itu konotasinya masa galau alias abege. Tp semua tergantung lingkungan dan didikan keluarga ya yg membentuk karakter anak

    Reply
    • April 28, 2021 at 10:25 pm
      Permalink

      Betul. Ayah sebagai kepala sekolah yang merumuskan kurikulum, ibu sebagai eksekutor yang tetap harus selalu dipantau oleh Ayah.

      Reply
  • April 29, 2021 at 3:38 am
    Permalink

    Remaja dan pemuda memang tidak bisa disamakan ya Mbak. Soalnya yang diminta oleh Bung Karno adalah “pemuda”, bukan “remaja”. Nah, tiga konsep yang telah disebutkan tadi mesti dijalankan, apalagi dalam keluarga muslim. Berat memang, tapi orang tua punya tanggung jawab dalam membentuk karakter anak yang diamanahkan oleh-Nya pada mereka

    Reply
  • April 29, 2021 at 3:58 am
    Permalink

    Memang betul agama adalah bekal dan fondasi paling kuat untuk membentuk anak-anak menjadi pemuda yang tangguh dan cakap di kelak kemudian hari. Dan orang tua menjadi pihak paling bertanggung jawab dalam proses pendidikan anak ini. Semoga kita semua diberikan kemampuan dan kekuatan untuk menjalankan amanah mulia ini ya Mom. Amin.

    Reply
  • April 29, 2021 at 4:05 am
    Permalink

    Saya pernah baca, membagi tahap mendidik anak juga jadi 3 mbak, rentang 7 tahunan.
    7 tahun pertama, anak sebagai raja yang harus dipenuhi segala kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
    7 tahun kedua sebagai pembantu, saatnya anak menaati apa saja yang diajarkan oleh orang tuanya.
    7 tahun ketiga anak sebagai menteri, saatnya dia bertanggungjawab terhadap tugas dan peran yang diberikan padanya

    Reply
  • April 29, 2021 at 4:22 am
    Permalink

    Saya setuju. Langsung sebut pemuda saja atau pra-pemuda. Lebih membuat mereka bertanggungjawab. Kata remaja memang membuat para ibu resah sekaligus permisif. Kebetulan saya punya 2 anak laki-laki usia belasan.

    Reply
  • April 29, 2021 at 6:20 am
    Permalink

    Jadi flashback dulu pas umur segitu ngapain aja. Otomatis jadi evaluasi sendiri buat anakku nanti juga biar ngga jadi remaja yang gatau dan ga jelas arahnya

    Reply
  • May 1, 2021 at 2:32 am
    Permalink

    Butuh kerjasama kedua orang tua untuk mendidik anak sesuai dengan usianya.
    Nice artikel, kak. Saya jadi sedikit tahu tentang tahapan perkembangan anak..
    Buat saya yang belum menikah, ini wawasan baru…

    Reply
  • May 3, 2021 at 3:48 am
    Permalink

    ilmu parenting warisan langit, mantap banget ini formulanya. Ada 3 ya tahapannya Tarbiyah, Ta’dib dan Ta’lim untuk menghasilkan generasi gemilang. Makasih Mba sharing ilmunya, bisa buat catatan aku kalau punya anak nanti

    Reply
  • May 3, 2021 at 12:54 pm
    Permalink

    Artikelnya bagus, related juga buat aku yang masih lajang ini. Bekal bagus kalau nanti udah nemu pasangan dan membangun rumah tangga resmi, ilmu pengetahuan adalah kunci supaya bisa jadi sebaik-baiknya manusia sejak masih remaja.

    Reply
  • May 27, 2021 at 5:16 pm
    Permalink

    TUJUAN MENCARI ILMU ADALAH UNTUK MENEMUKAN KEBENARAN BUKAN UNTUK DAPAT IJAZAH, GELAR, DAN PEKERJAAN.

    Saya mungkin dulu termasuk yang salah kaprah dalam hal ini. Wkwkwk. Pokoknya harus jadi sarjana, begitulah kira2 mindset awalnya. Makanya saya gak ingin anak saya kelak seperti saya. Ilmu adalah bekal, bukan sekadar modal. Ilmu juga yang menaikkan derajat kita satu tingkat di hadapan Allah SWT.

    Reply
  • May 28, 2021 at 11:54 am
    Permalink

    Terima kasih mba atas tulisannya, sangat membuka fikiran saya selama ini tentang pola asuh anak. Kalau difikir-fikir memang generasi terdahulu lebih produktif ya dibanding generasi sekarang padahal banyak sekali kemudahan yang ada di zaman sekarang tetapi tidak semua bisa dimanfaatkan atau dilakukan dengan bijak

    Reply
  • May 30, 2021 at 9:48 am
    Permalink

    Wahhh sangat tercerahkan sekali membaca artikel ini. Jadi ada persiapan dan paham pra mom hehe. Nice sharing kak

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *